jadi seperti ini, kali ini aku tidak akan bercerita tentang seseorang yang biasa ku ceritakan padamu, aku tidak akan bercerita tentang dia yang telah lama pergi dengan meninggalkan segala janji-janjinya. kali ini aku akan mengenalkanmu tentang sosok baru yang hadir dalam kehidupanku, sosok dengan wajjah degas tapi begitu mampu membuatku hanyut dalam dekapannya. kau tahu, ini bukanlah hal yang mudah, ketika kau harus memutuskan untuk menjatuhkan hati pada pria yang sudah memiliki kekasih.
kau pasti akan terkejut-kejut bukan? kau pasti akan menganggapku telah hilang kewarasan, tapi sungguh ini tak seperti yang kau bayangkan. aku mengenalnya begitu saja, dia yang begitu asing, tiba-tiba hadir membawa warna baru dan kehangatan, seperti senja yang kian hadir membawa jingga. awalnya aku menganggap semua biasa, perkenalan kita, percakapan kecil, dan semua hal-hal konyol yang terjadi.
hingga sampai pada saat dimana, waktu telah menyeretku terlalu jauh, hingga aku terjerat dalam pilihanku sendiri, aku terlanjur tenggelam dalam hangatnya, aku terlanjur jatuhkan hati ini untuk pria yang mungkin hanya menganggapku tempat persinggahannya saja. tatapan mata selalu saja berhasil membuatku takut untuk bertanya, "sebenarnya kau anggap aku ini apa? kenapa kau memasungku begitu lama hingga aku terjerat dalam ruang hampa bernama, hatimu? kenapa kau membiarkan aku menyelonong masuk, sementara di depan pintu hatimu telah ada seorang wanita yang berdiri kokoh menjaga pintu hatimu?
setega itukah dirimu? tsk bisakah kau bayangkan rasanya menjadi aku, yang setiap hari harus menahan kesesakan karena melihatmu selalu mengucap kata-kata manis untuk kekasihmu, sementara aku. aku hanya mematung, membisu sperti barisan aksara tanpa tujuan, aku tak tahu harus berlari ke arah mana, semua terasa gelap, tak ada pintu yang terbuka, dan kutemukan hanya 2 pintu erna kamu, namun ada seorang wanita yang menjaganya.
tak seharusnya kau seperti ini bukan? tak bisakah kau tetapkan hatimu hanya untuk satu wanita? aku bukanlah bonekamu yang bisa kau perintah dan kau mainkan sesukamu, kau bukanlah dalang yang berhak menentukan sekenario kehidupanku.
aku membencimu, amat sangat membencimu. namun disatu sisi lain rasa ini telah tertanam dan akar2nya pun sudah terlanjur merngkuhku hingga titik terdalam.
aku tak bisa melepasmu, dengan semua kenangan yang sudah begitu saja terjadi.
aku tak bisa, jika akhirnya harus berjalan sendiri dengan membawa segala bayang bayangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar