Halo selamat malam tuan. Bagaimana
kabarmu sekarang? Aku harap kau selalu baik-baik saja. Tuan lagi-lagi aku harus
menulis dan kali ini tentang kamu. Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana,
rasanya malam ini aku begitu merasa menggigil, mungkin karena hujan atau
mungkin juga karena persaanku yang sedang tak menentu. Tuan sebenarnya aku
sangat tidak ingin menulis lagi, apa lagi jika harus tentang kamu. Kau tahu
kenapa? Karena, aku menjadikan setiap aksara dalam tulisanku sebagai catatan
yang sewaktu-waktu bisa kembali ku buka dan ku baca. Awalnya semua yang
berjalan dengan baik-baik saja sekarang malah berlalu dengan begitu cepat.
Perhatian kecil yang awalnya biasa ternyata mampu membuatku merasakan adanya
perasaan lain yang hadir, semua berjalan dengan begitu manis hingga aku tak
sadar jika kehadiranmu memberikan perasaan aneh. Sehari saja jika aku tak
menerima kabar darimu, aku merasa begitu kehilangan. Dulu hampir setiap hari
sejak awal kedatanganku di jogja kau pasti meluangkan waktu sekedar untuk bertemu
denganku, berbagi cerita lucu, bermain mainan konyol yang bahkan membuatku hampir
jengkel dibuatnya, tapi kala itu aku bahagia karena kejengkelanku terhadap
mainanmu bisa membuatmu tertawa karena
tingkahku yang kebingungan. Hingga aku bertanya lebih jauh lagi tentang masa
lalu dan tentang keluargamu.
Tuan,
sebenarnya aku tidak ingin menanyakanmu tentang masa lalumu, jujur aku begitu
mencemburui mantan-mantanmu, karena mereka pernah menjadi bagian terpenting
dalam hidupmu, karna dulu pernah ada mereka yang bisa membuatmu tersenyum, dan
aku cemburu. Aku tidak ingin jika ada wanita lain yang mengisi hati mu selain
aku, dan aku berjanji tuan, aku tidak akan membuka lembaran masa lalumu tentang
wanita-wanitamu dulu. Cukuplah, yang aku tahu kini hanya ada kamu dan aku, ah
bodoh! Kenapa kau begitu percaya diri mengartikan segala perhatiannya adalah
bentuk kecil bahwa dia juga mencintaimu. Tidak mungkin, karena aku dan dia
hanyalah sebatas status adik dan kaka’an. Tuan tapi aku tidak yakin jika
perasaanmu tidak sama denganku, juga tidak mungkin jika semua kata sayang yang
dulu pernah kau ucapkan untukku hanyalah retorika semata. Aku juga tidak tahu
harus mengartikan segala perhatianmu dengan cara apa lagi agar aku tidak
berharap terlalu jauh. Aku takut menyakiti hatiku sendiri, dan aku juga tidak
mau jika harus membohongi perasaan dan akhirnya harus mengorbankan perasaanku
sendiri. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku tidak tahan dengan semua
ini, aku semakin kehilangan cara untuk membunuh segala rasa yang telah hadir,
dan dengan caramu terakhir kali menatapku dengan tatapan yang begitu lembut,
hangat, dan saat kau menggenggam jemariku dengan begitu nyaman, dan kau juga ucapkan
beberapa kata manis, dan sungguh itu semua semakin membuatku begitu sulit untuk
menghilangkan perasaan yang menggebu ini. Kau mulai mengajakku jalan pada malam
minggu pertama di bulan November. Tapi karena ada sesuatu yang lebih penting,
aku tidak bisa menerima ajakan itu.
Tuan, aku menyesal, seandainya saja Tuhan
masih memberikan kesempatan pada kita untuk saling membahagiakan, aku pasti
akan terus berada di sampingmu. Jika aku tahu malam itu akan menjadi pertemuan
terakhir yang begitu manis untuk kita, mungkin aku akan lebih memilih meluangkan
waktu untuk bersamamu. Tuan, akhirnya kini ketakutanku menjelma menjadi nyata,
aku nyaris tak bisa berkata-kata, hampir setiap malam aku membasahi batal
tidurku, aku bersembunyi di balik nyayian hujan. Seiring waktu berjalan, dengan
kesibukan kita masing-masing, aku semakin kehilangan sosokmu, aku terasing
bahkan di hadapanmu. Kita saling acuh, dan itu benar-benar menyiksa batinku.
Aku ketakutan, sosokmu berubah menjadi monster yang tak pernah aku kenali
sebelumnya. Tuan, Sosokmu menghilang dengan begitu cepat, aku khawatir, aku
mencari-cari segala hal tentangmu, aku mencari tahu kamu melawati kawan-kawan
satu jurusanmu. Ternyata kau terlalu sibuk dengan rutinitasmu. Aku juga mendengar,
bahwa sekarang kamu sudah berbahagia dengan kekasih barumu. Kamu sudah
menemukan kekasih hatimu, mungkin lebih tepatnya menemukan kepingan hati yang
dulu sempat terpisah. Kau kembali pada mantan kekasihmu yang dulu sempat kau
ceritakan kepadaku. Entah aku harus menyalahkan siapa, sudah hampir satu bulan
ini aku bertahan dalam kesakitanku, aku mencoba memaksa diriku untuk melupakan
kamu, aku mencoba membunuh segala perasaan yang pernah ada, tapi nyatanya
memang tidak semudah menumbuhkan perasaan cinta. Sering kali aku harus menahan
rindu yang membabibuta ini, mengekang rasa yang selalu bersorak ingin keluar. Aku
berusaha menutup luka, tersenyum dalam keterpaksaan. Sekarang aku paham, cukup
dan tak ada lagi yang perlu kau jelaskan Tuan, ternyata itulah alasannya. Baiklah,
aku akan pergi, meski aku tahu mungkin aku tak akan lagi menemukan sosokmu yang
dulu, aku tak lagi bisa merasakan kenyamanan yang dulu sempat hadir. Dan mungkin
butuh waktu yang cukup lama untuk melupakan dan berpura-pura bahwa tidak pernah
ada tawa yang dulu pernah hadir diantara kita, bahwa aku tak merindukanmu
sedalam ini, bahwa aku tak benar-benar takut kehilangan sosokmu.