Total Tayangan Halaman

Sabtu, 28 Juni 2014

Malam dan Kita

Sabtu malam di akhir juni, terasa begitu hangat. semilir angin lembut menyapa wajahku.kali ini aku tidak akan menuliskan sinopsis terlalu panjang, karena malam terlalu singkat dan begitu cepat bahkan tak mampu mengulas cerita yang telah kulewati. 

jadi seperti ini,  kali ini aku tidak akan bercerita tentang seseorang yang biasa ku ceritakan padamu, aku tidak akan bercerita tentang dia yang telah lama pergi dengan meninggalkan segala janji-janjinya. kali ini aku akan mengenalkanmu tentang sosok baru yang hadir dalam kehidupanku, sosok dengan wajjah degas tapi begitu mampu membuatku hanyut dalam dekapannya. kau tahu, ini bukanlah hal yang mudah, ketika kau harus memutuskan untuk menjatuhkan hati pada pria yang sudah memiliki kekasih.

kau pasti akan terkejut-kejut bukan? kau pasti akan menganggapku telah hilang kewarasan, tapi sungguh ini tak seperti yang kau bayangkan. aku mengenalnya begitu saja, dia yang begitu asing, tiba-tiba hadir membawa warna baru dan kehangatan, seperti senja yang kian hadir membawa jingga. awalnya aku menganggap semua biasa,  perkenalan kita, percakapan kecil, dan semua hal-hal konyol yang terjadi.

hingga sampai pada saat dimana, waktu telah menyeretku terlalu jauh, hingga aku terjerat dalam pilihanku sendiri, aku terlanjur tenggelam dalam hangatnya, aku terlanjur jatuhkan hati ini untuk pria yang mungkin hanya menganggapku tempat persinggahannya saja. tatapan mata selalu saja berhasil membuatku takut untuk bertanya, "sebenarnya kau anggap aku ini apa? kenapa kau memasungku begitu lama hingga aku terjerat dalam ruang hampa bernama, hatimu? kenapa kau membiarkan aku menyelonong masuk, sementara di depan pintu hatimu telah ada seorang wanita yang berdiri kokoh menjaga pintu hatimu?

setega itukah dirimu? tsk bisakah kau bayangkan rasanya menjadi aku, yang setiap hari harus menahan kesesakan karena melihatmu selalu mengucap kata-kata manis untuk kekasihmu, sementara aku. aku hanya mematung, membisu sperti barisan aksara tanpa tujuan, aku tak tahu harus berlari ke arah mana, semua terasa gelap, tak ada pintu yang terbuka, dan kutemukan hanya 2 pintu erna kamu, namun ada seorang wanita yang menjaganya.

tak seharusnya kau seperti ini bukan? tak bisakah kau tetapkan hatimu hanya untuk satu wanita? aku bukanlah bonekamu yang bisa kau perintah dan kau mainkan sesukamu, kau bukanlah dalang yang berhak menentukan sekenario kehidupanku.
aku membencimu, amat sangat membencimu. namun disatu sisi lain rasa ini telah tertanam dan akar2nya pun sudah terlanjur merngkuhku hingga titik terdalam.

aku tak bisa melepasmu, dengan semua kenangan yang sudah begitu saja terjadi.
aku tak bisa, jika akhirnya harus berjalan sendiri dengan membawa segala bayang bayangmu.

Rabu, 12 Maret 2014

Ternyata Kau Benar





Akhirnya aku sampai pada tahap ini, hal yang tak pernah aku tunggu-tunggu . posisi yang sebenarnya tak pernah aku bayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan terjatuh terlalu dalam. Ku kira langkahku sudah benar. Ku pikir anggapanku adalah segalanya. Meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Entah kenapa, hari-hariku tiba-tiba kosong dan berbeda. Mungkin kau pikir aku berlebihan, tentu saja kau berpikir seperti itu, karena kau tak berada di posisiku, kamu tak merasakan sesaknya menjadi aku. Ternyta usahaku untuk memperjuangkanmu selama ini sia-sia . dan mungkin, jika dari awal aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini.

Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak sedekat ini, hingga setelah menerima kenyataan rasanya begitu sangat menyesakkan. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Aku juga manusia biasa yang memiliki perasaan, ku harap kamu bisa memahami dan menyadari . 

Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kau tak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa ku mengerti. Aku masih belum mengerti, mengapa semua berakhir dengan sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu . aku hanya temanmu, temanmu, temanmu!!

Jika kau ingin tahu, selama ini aku kesesakan dengan semua perlakuanmu. Aku terkatung-katung sendirian. Membiarkan meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang sudah kulakukan, tapi kenapa matamu masih belum juga terbuka dan tertutup ragu?
Sejak dulu, harusnya aku tak perlu perhatikan kamu sedetil itu.  Mungkin jika dari awal aku tak pernah mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi.
Iya. Aku bodoh, puas?

Mengetahui kenyantaan yang mencekam seperti ini, aku jadi malas tersenyum dan berbicara banyak tentang perasaanku kepada orang lain. Berbahagialah kamu dengan wanita pilihanmu,disini aku juga berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Kau tahu, karena yang kupahami, sejatinya cinta adalah ikhalas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun bukan bersamaku.
Tenanglah, aku akan berlajar melupakanmu. Biar aku yang mengobati luka ini sendiri dengan sekuat tenaga. Aku ingin kamu bahagia bersamanya, aku tak bisa berbuat banyak selain mendoakanmu dalam percakapan panjangku dengan tuhan. Maaf karena aku tak sempat membuatmu tersenyum.

Mungkin setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi, bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyumJ

Gelisah



Mimpi-mimpi ini semakin melekat ceritamu
Enggan lepas hingga melengkungkan kesedihan di jejak kaki
Sangat perih, dan sepertinya aku telah terlempar jauh di pusaran penantian
adakah seyum lugumu lagi?

Datanglah, karena aku masih disini menunggumu, di garis penantian
Datanglah meski hanya sebatas basah embun
Di balik senja rindu ini masih ku jaga untukmu
Bukan hal yang mampu membuatku terbiasa
Dengan mengasingkanmu begitu jauh dari senja di sepotong soreku
Hingga menghasilkan sepi yang semakin menjerat

Ketakutanku menjelma jadi nyata
Merangkak dalam kebisuan, bagai debu yang membabibuta tersapu angin
Malam sudah terlalu lama menjeratku dalam kesunyian
Dalam gelap aku tak lagi mampu menemukan sosokmu
Aku berlari, dan terus saja berlari
Berhentilah! Ku mohon, lihatlah ada aku. Bagaimana mungkin aku mampu beranjak pergi
Sementara larik-larik senyummu semakin menjelma lukisan terang yang memenuhi kegelisahanku.

Lelah…
Hanya ada getar lemah yang tersisa, tanpa wujud sapa
Aku hanya bisa menerima jika ini memang seharusnya
Ketika hati menyapa ruang hampa
“Tuhan, temaniku dalam gelisah ini. Itu saja”

Kamis, 06 Februari 2014

Pergi Tanpa Pesan


Rasanya terlalu menyakitkan untuk melihat kembali semua kenangan yang pernah ada. Kamu datang dengan begitu saja, tanpa pernah aku tahu sebelumnya.  Kau memberikan warna baru, menghiasinya dengan bunga-bunga indah. Kau membuatkan taman kecil, dan kita sering bermain disana, hingga aku lupa bagaimana caranya bersedih. Kau mengajariku untuk selalu tersenyum. Tapi waktu berjalan dengan begitu angkuh, ia membawamu pergi hingga lupa untuk memberikan pesan terakhir. Atau memang sebaiknya tak pernah ada pesan terakhir, karena itu akan semakin menyakitkanku. 

Hari ini, aku merasa begitu sepi. Aku mencoba meyakinkan diriku, bahwa tanpa ada kamu pun aku masih tetap bisa bertahan. Meski begitu, saat ini rindu masih menggangguku. Ditemani sepotong senja sore ini, aku datang  ke tempat biasa kita bertemu, entah mungkin kamu sudah tidak pernah datang kesini lagi, atau mungkin kamu sudah melupakan semua. Aku merenung sejenak, apa mungkin semua ini karena aku? Aku yang tak pernah bisa menjadi yang terbaik di hatimu. Hingga kau pergi begitu saja bersama dia.

Maaf, jika suatu saat nanti aku tak lagi sama seperti dulu. Mungkin aku hanya akan tersenyum kemudian aku akan menjadi bisu di hadapanmu, dan akan kututup mataku rapat-rapat agar bayangmu tak lagi mengganggu. Jujur, aku masih begitu mencintai dan membutuhkan kamu, tapi melihat keadaan yang seperti ini aku harus berusaha melupakan dan merelakan kamu dengan dia. Terlihat tidak adil bukan? Aku yang selama ini berlari untukmu harus berhenti di tengah jalan sebelum sampai di garis finis karena ada dia yang lebih dulu sampai disana.

Kamu tidak tahukan, aku berjuang dalam kesakitan ku. Berusaha menanggalkan semua ingatanku, meski semua tidak semudah seperti saat kau pergi bersama dia. Kau tau, kau adalah pembohong yang paling hadal, manusia dengan lidah paling berbisa. Janji mu terlalu memuakkan, aku benci semua hal yang dulu pernah kau ucapkan kepadaku, bahwa kau menyayangiku, bahwa kau akan selalu ada di sampingku untuk menjagaku. Apa kau lupa? Kau katakana semua itu dengan KERAS!! Bulshit!  Aku harap kamu menyadari semua kesalahnmu kepadaku, aku harap suatu saat nantu kau akan membaca tulisanku ini. Kemudian kau akan menyesali semuanya.

Mungkin ini akan menjadi yang terakhir bagiku untuk duduk disini, di tempat biasa kita mengabiskan waktu bersama.

Rabu, 15 Januari 2014

Aksara Rindu

Halo selamat malam tuan. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap kau selalu baik-baik saja. Tuan lagi-lagi aku harus menulis dan kali ini tentang kamu. Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana, rasanya malam ini aku begitu merasa menggigil, mungkin karena hujan atau mungkin juga karena persaanku yang sedang tak menentu. Tuan sebenarnya aku sangat tidak ingin menulis lagi, apa lagi jika harus tentang kamu. Kau tahu kenapa? Karena, aku menjadikan setiap aksara dalam tulisanku sebagai catatan yang sewaktu-waktu bisa kembali ku buka dan ku baca. Awalnya semua yang berjalan dengan baik-baik saja sekarang malah berlalu dengan begitu cepat. Perhatian kecil yang awalnya biasa ternyata mampu membuatku merasakan adanya perasaan lain yang hadir, semua berjalan dengan begitu manis hingga aku tak sadar jika kehadiranmu memberikan perasaan aneh. Sehari saja jika aku tak menerima kabar darimu, aku merasa begitu kehilangan. Dulu hampir setiap hari sejak awal kedatanganku di jogja kau pasti meluangkan waktu sekedar untuk bertemu denganku, berbagi cerita lucu, bermain mainan konyol yang bahkan membuatku hampir jengkel dibuatnya, tapi kala itu aku bahagia karena kejengkelanku terhadap mainanmu bisa  membuatmu tertawa karena tingkahku yang kebingungan. Hingga aku bertanya lebih jauh lagi tentang masa lalu dan tentang keluargamu.
Tuan, sebenarnya aku tidak ingin menanyakanmu tentang masa lalumu, jujur aku begitu mencemburui mantan-mantanmu, karena mereka pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupmu, karna dulu pernah ada mereka yang bisa membuatmu tersenyum, dan aku cemburu. Aku tidak ingin jika ada wanita lain yang mengisi hati mu selain aku, dan aku berjanji tuan, aku tidak akan membuka lembaran masa lalumu tentang wanita-wanitamu dulu. Cukuplah, yang aku tahu kini hanya ada kamu dan aku, ah bodoh! Kenapa kau begitu percaya diri mengartikan segala perhatiannya adalah bentuk kecil bahwa dia juga mencintaimu. Tidak mungkin, karena aku dan dia hanyalah sebatas status adik dan kaka’an. Tuan tapi aku tidak yakin jika perasaanmu tidak sama denganku, juga tidak mungkin jika semua kata sayang yang dulu pernah kau ucapkan untukku hanyalah retorika semata. Aku juga tidak tahu harus mengartikan segala perhatianmu dengan cara apa lagi agar aku tidak berharap terlalu jauh. Aku takut menyakiti hatiku sendiri, dan aku juga tidak mau jika harus membohongi perasaan dan akhirnya harus mengorbankan perasaanku sendiri. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku tidak tahan dengan semua ini, aku semakin kehilangan cara untuk membunuh segala rasa yang telah hadir, dan dengan caramu terakhir kali menatapku dengan tatapan yang begitu lembut, hangat, dan saat kau menggenggam jemariku dengan begitu nyaman, dan kau juga ucapkan beberapa kata manis, dan sungguh itu semua semakin membuatku begitu sulit untuk menghilangkan perasaan yang menggebu ini. Kau mulai mengajakku jalan pada malam minggu pertama di bulan November. Tapi karena ada sesuatu yang lebih penting, aku tidak bisa menerima ajakan itu.
Tuan, aku menyesal, seandainya saja Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk saling membahagiakan, aku pasti akan terus berada di sampingmu. Jika aku tahu malam itu akan menjadi pertemuan terakhir yang begitu manis untuk kita, mungkin aku akan lebih memilih meluangkan waktu untuk bersamamu. Tuan, akhirnya kini ketakutanku menjelma menjadi nyata, aku nyaris tak bisa berkata-kata, hampir setiap malam aku membasahi batal tidurku, aku bersembunyi di balik nyayian hujan. Seiring waktu berjalan, dengan kesibukan kita masing-masing, aku semakin kehilangan sosokmu, aku terasing bahkan di hadapanmu. Kita saling acuh, dan itu benar-benar menyiksa batinku. Aku ketakutan, sosokmu berubah menjadi monster yang tak pernah aku kenali sebelumnya. Tuan, Sosokmu menghilang dengan begitu cepat, aku khawatir, aku mencari-cari segala hal tentangmu, aku mencari tahu kamu melawati kawan-kawan satu jurusanmu. Ternyata kau terlalu sibuk dengan rutinitasmu. Aku juga mendengar, bahwa sekarang kamu sudah berbahagia dengan kekasih barumu. Kamu sudah menemukan kekasih hatimu, mungkin lebih tepatnya menemukan kepingan hati yang dulu sempat terpisah. Kau kembali pada mantan kekasihmu yang dulu sempat kau ceritakan kepadaku. Entah aku harus menyalahkan siapa, sudah hampir satu bulan ini aku bertahan dalam kesakitanku, aku mencoba memaksa diriku untuk melupakan kamu, aku mencoba membunuh segala perasaan yang pernah ada, tapi nyatanya memang tidak semudah menumbuhkan perasaan cinta. Sering kali aku harus menahan rindu yang membabibuta ini, mengekang rasa yang selalu bersorak ingin keluar. Aku berusaha menutup luka, tersenyum dalam keterpaksaan. Sekarang aku paham, cukup dan tak ada lagi yang perlu kau jelaskan Tuan, ternyata itulah alasannya. Baiklah, aku akan pergi, meski aku tahu mungkin aku tak akan lagi menemukan sosokmu yang dulu, aku tak lagi bisa merasakan kenyamanan yang dulu sempat hadir. Dan mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk melupakan dan berpura-pura bahwa tidak pernah ada tawa yang dulu pernah hadir diantara kita, bahwa aku tak merindukanmu sedalam ini, bahwa aku tak benar-benar takut kehilangan sosokmu.

Senin, 23 Desember 2013

Pecahan Puzzle

     Aku masih menatap langit-langit kamar, suara hujan ternyata masih begitu merdu menemaniku dari yang perlahan semakin terjerat dengan kebisuan. Tanpa sadar mataku semakin sembab, air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Bayangannya, sosoknya, seketika hadir dalam lamunanku . Ternyata aku masih begitu merindukannya. Selama ini aku sudah terlalu lama menari dalam hujan, menutup telinga rapat-rapat, mengunci mulut, hingga begitu sulit mengakui keadaan hati yang goresannya sudah semakin melebar.  Sudah beberapa hari ini berlalu, aku sudah berusaha membuat diriku sibuk dengan segala rutinitasku di kampus, tapi nyatanya masih begitu sulit untuk melupakan seseorang yang terbiasa ada di sampingku, dan itu adalah kamu. Beberapa minggu ini aku berusaha memastikan diriku, bahwa tanpa kamupun aku masih bisa untuk tetap berjalan. Sesekali, saat gelap malam datang, rasa sepi itupun kembali datang. Biasakah kau berhenti berotasi dalam otakku? bisakah bayanganmu enyah untuk sekejap aja? Aku lelah karena harus terus berusaha berlari, sementara bayanganmu masih terus mengejar dan menjeratku semakin erat. 
     Aku takut menatapmu, tatapan matamu tak lagi seteduh dulu. Kau seperti rintik hujan yang setiap saat berada di bawah rintiknya, badanku pasti akan merasa menggigil dan sakit karena tertusuk rintikannya. Begitupun kamu, sekarang kamu berbeda. Saat di dekatmu terasa seperti ada yang menggores hatiku, benar-benar merasa tersayat. Kau berubah menjadi seorang yang tak pernah ku ketahui. Tolong, biarkan aku menjauh, biarkan sepi, sunyi, dan senyap menemaniku saat ini. Biarkan aku mengobati perasaanku sendiri untuk sementara waktu. Selama ini kita terlalu angkuh, karena  lebih mementingkan keegoisan dari pada kebahagiaan kita. Kau terlalu menutup diri tentang perasaanmu, dan aku yang tak pernah bisa untuk memahamimu. Apa mungkin Takdir tuhan memang tak pernah berpihak pada kita? Jika itu memang benar, aku akan lebih menutup telinga rapat-rapat lagi, akan kututup mataku, agar tak ada lagi yang tersakiti, agar tak ada lagi yang terluka. Maaf, karena aku tak lagi mampu mengokohkan langkahmu, menopangmu, dan tak lagi mampu berada di sampingmu.
      Maaf untuk setiap rasa kecewa yang ku goreskan di hatimu. Maaf untuk kehadiranku yang membuatmu kembali memasuki ruang masa lalumu. Sungguh, jika kesempatan itu masih ada, jika waktu masih mengijinkan kita untuk kembali memulai, takkan pernah aku sia-siakan itu lagi. Awalnya, aku hanya ingin mencoba menyadarkanmu, tapi ternyata kau lupa, bahwa masih ada seorang yang begitu mengkhawatirkanmu, merindukanmu, dan bahkan masih mencintaimu.
Dan saya merindukanmu, juga kita yang dulu.