Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Mei 2013

Ketika Aku mulai Mencintaimu



  Satu minggu perkenalan kita berjalan, memang begitu singkat. Tapi nyatanya rasa yang hadir begitu cepat merasuk dalam tubuhku. Perkenalan kita memang tak pernah ku reka-reka bahkan kuduga, aku tak pernah merencanakan pertemuan, karena itu telah menjadi takdir tuhan.  Aku menikmati setiap detik yang kita lewati, pertemuan tak nyata buktinya mampu membuat rasa rinduku semakin tak menentu.  Kita mulai melwati setiap waktu kosong  dengan menggunakan Skype, karena hanya dengan menggunakannya aku bisa melihat senyummu. Meskipun merasa tak lega tapi setidaknya hanya dengan melihat wajah dan senyummu dari layar laptop mampu menghilangkan sedikit rasa dahaga di rinduku. 
Kau mulai bersikap bodoh dan konyol, dengan membuat ejekan kecil untukku, membuat nama kesayangan untukku, begitupun aku. 

Aku tak pernah berpikir untuk bisa menjadi milikmu, karena mungkin itu mustahil, kau terlalu sempurna, bahkan mungkin sudah begitu banyak wanita yang menunggumu disana. Tapi apa mungkin hati dan perasaanku yang salah karena telah mengenalmu, lalu mencintaimu? Tapi kenapa kau tak pernah percaya, kau hanya menggap rinduku sebagai piyik yang bergombal, kehadiranmu merubah segalanya, aku tak pernah merasa senyaman ini. Maaf jika aku terlalu cerewet ketika kamu disana kehujanan, maaf jika aku terlalu peduli saat kamu sakit tetapi aku tak bisa ada di sampingmu. Entah, aku merasa kau juga memiliki perasaan yang sama. Aku menyukai kepolosanmu, kekonyolanmu, sederhana. kau berubah-ubah layaknya bunglon, kadang menyenangkan, menyebalkan, dan itu yang membuatku semakin menyukaimu. Aku tak ingin jika semua perhatianmu yang selama ini ku anggap sebagai bentuk cinta adalah salah. Bahkan aku takut, aku takut kehilangan kamu, seseorang yang belum pernah aku miliki.

Ternyata masih Kamu

Kadang aku gak mengerti dengan perasaanku sendiri, sudah terlalu membeku, sampai begitu sulit untuk kembali di cairkan. Aku masih saja belum mampu memaksa hatiku untuk tidak lagi mencintaimu, dan aku masih saja belum mampu menghilangkan rasa cinta yang bahkan telah lama membusuk dalam hati. Entah aku memang tidak tahu wujud dari Cinta itu sendiri, karena aku cuma bisa memahami sebagian cinta itu dari kamu. Ya, cuma kamu yang perlahan bisa membuat aku mengerti arti sebuah ketulusan untuk menunggu, menunggu hal yang bahkan belum aku ketahui apakah aku akan mendapat kepastian darimu atau  tidak. Karena yang aku tahu rasa ini ada untuk kamu, cinta ini ada karena aku terbiasa bergurau dengannya. Entah kamu mau anggap ini konyol atau bodoh. 
       Dari kamu juga aku bisa tau apa arti dari sebuah kenangan itu, ya walau aku tahu mungkin kenangan yang pernah ada di antara kita hanya berisikan sedikit kebahagiaan, sisannya hanya sebuah luka dan air mata. Tapi itu tidak menjadikkan alasan untukku, karena seburuk apapun kenangan itu, tetap pernah ada kita di dalamnya, dan lagi-lagi aku tak mampu untuk menanggalkannya. Maafkan aku yang tak bisa menahan ketika rasa rindu ini mulai bersorak ingin keluar untuk menghilangkan rasa dahaganya. maafkan aku yang masih saja diam-diam mencintaimu, bahkan juga ikut menangisimu dalam hati. Ya lagi-lagi inilah cinta, aku harus rela berkorban. Mungkin rasa yang kamu miliki tak lagi sama seperti dulu, bahkan mungkin cinta yang dulunya utuh kini telah memudar hingga kau tak lagi tahu bagaimana rasanya menjadi aku, bagaimana rasanya harus bertahan sendiri demi sebuah penyatuan. Awalnya aku pikir “Aku bahagia lihat kamu sama dia asalkan aku bisa liat senyum kamu terus, meski itu bukan sama aku” tapi bulshit aku bahkan masih gak bisa terima kita putus, apalagi harus liat kamu jalan dan sampai jadian sama yang lain . Sampai kapan? Sampai kapan kamu mau terus bersikap angkuh seperti itu? Mungkin dia bisa buat kamu jatuh cinta, tapi satu hal yang gak akan kamu temukan dan dapatkan, Ketulusan seperti yang aku punya untuk tetap bertahan dengan kamu. Karena nanti akan ada saatnya dimana kamu tak lagi mampu menemukan sesorang yang begitu tulus mencintaimu seperti aku, bahkan kamu takkan pernah bisa lagi merasakan perhatian yang bahkan begitu dalam.
       Aku Cuma bisa berharap pada tuhan, semoga pada akhirnya nanti kamu tidak terluka. Entah untuk keberapa malam lagi, entah untuk keberapa hari lagi yang harus aku lewatin tanpa kamu. Aku mencoba bertahan sendiri disini, berusaha menyempurnakan kepingan hati yang telah hancur tanpa bentuk, entah sudah keberapa maaf yang telah aku berikan untuk setiap kesalahan yang selalu kau ulangi. Entah sudah berapa banyak tetes air hujan yang menghapus setiap goresan luka kesedihan ini. Waktu dan doa, aku hanya berharap keduanya bisa berjalan beriringan untuk menyatukan kepingan hati ini. Aku tahu sebesar apapun usahaku untuk memperbaiki kepingan hati ini, takkan bisa membuatnya utuh bahkan sempurna seperti awal lagi. Siapapun yang ada di sampingku saat ini tak akan bisa menggantikan posisi kamu di hatiku, karena aku tak bisa menemukan sosok kamu dalam diri yang lain, karena yang aku butuh ‘KAMU’. Bahkan waktu terlalu cepat membawa setiap kenangan yang kita miliki, kamu terlalu mudah melupakan semuanya, karena kamu yang mungkin takkan pernah tau bagaimana debaran jantung ini berdetak ketika tatapan kita saling bertemu. 
         Karena kamu takkan pernah mengerti bagaimana bertahan dalam waktu yang begitu lama hanya untuk mempertahankan sebuah rasa, karena kamu juga takkan pernah tahu bagaimana rapuhnya hati ini melihat kebahagiaan di wajahmu ada karena dia,bukan aku. Sering terlintas untuk meninggalkan, karena kamupun sudah tak ingin lagi untuk aku perjuangkan. Bagaimana bisa aku bertahan sendiri sementara kamu tertawa bersama dia. Aku masih mencintaimu dan jujur aku masih belum benar-benar siap untuk kehilanganmu, apa lagi yang harus aku korbankan? Sementara kamu tak pernah sedikitpun menghargai. Apalagi yang akan kamu berikan kepadaku selain luka dan kecewa? Apa ini layak di bilang sebuah cinta? Jika kamu pikir aku belum mampu untuk membuatmu bahagia, tapi percaya satu hal, aku tidak akan menyakitimu. Tapi sayang, hatimu terlalu keras. Ya memang, tak masalah bagiku karena aku sudah terbiasa menikmati setiap luka dari kamu. Kamu yang mengajariku untuk tetap bertahan, untuk tetap berdiri di saat patah sekalipun, ya aku tau ini memang salahku yang mungkin terlalu peduli kepadamu hingga begitu mudahnya luka menyakitiku. Tapi aku takut jika aku tak lagi peduli kepadamu aku akan kehilanganmu.