Total Tayangan Halaman

Senin, 23 Desember 2013

Pecahan Puzzle

     Aku masih menatap langit-langit kamar, suara hujan ternyata masih begitu merdu menemaniku dari yang perlahan semakin terjerat dengan kebisuan. Tanpa sadar mataku semakin sembab, air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Bayangannya, sosoknya, seketika hadir dalam lamunanku . Ternyata aku masih begitu merindukannya. Selama ini aku sudah terlalu lama menari dalam hujan, menutup telinga rapat-rapat, mengunci mulut, hingga begitu sulit mengakui keadaan hati yang goresannya sudah semakin melebar.  Sudah beberapa hari ini berlalu, aku sudah berusaha membuat diriku sibuk dengan segala rutinitasku di kampus, tapi nyatanya masih begitu sulit untuk melupakan seseorang yang terbiasa ada di sampingku, dan itu adalah kamu. Beberapa minggu ini aku berusaha memastikan diriku, bahwa tanpa kamupun aku masih bisa untuk tetap berjalan. Sesekali, saat gelap malam datang, rasa sepi itupun kembali datang. Biasakah kau berhenti berotasi dalam otakku? bisakah bayanganmu enyah untuk sekejap aja? Aku lelah karena harus terus berusaha berlari, sementara bayanganmu masih terus mengejar dan menjeratku semakin erat. 
     Aku takut menatapmu, tatapan matamu tak lagi seteduh dulu. Kau seperti rintik hujan yang setiap saat berada di bawah rintiknya, badanku pasti akan merasa menggigil dan sakit karena tertusuk rintikannya. Begitupun kamu, sekarang kamu berbeda. Saat di dekatmu terasa seperti ada yang menggores hatiku, benar-benar merasa tersayat. Kau berubah menjadi seorang yang tak pernah ku ketahui. Tolong, biarkan aku menjauh, biarkan sepi, sunyi, dan senyap menemaniku saat ini. Biarkan aku mengobati perasaanku sendiri untuk sementara waktu. Selama ini kita terlalu angkuh, karena  lebih mementingkan keegoisan dari pada kebahagiaan kita. Kau terlalu menutup diri tentang perasaanmu, dan aku yang tak pernah bisa untuk memahamimu. Apa mungkin Takdir tuhan memang tak pernah berpihak pada kita? Jika itu memang benar, aku akan lebih menutup telinga rapat-rapat lagi, akan kututup mataku, agar tak ada lagi yang tersakiti, agar tak ada lagi yang terluka. Maaf, karena aku tak lagi mampu mengokohkan langkahmu, menopangmu, dan tak lagi mampu berada di sampingmu.
      Maaf untuk setiap rasa kecewa yang ku goreskan di hatimu. Maaf untuk kehadiranku yang membuatmu kembali memasuki ruang masa lalumu. Sungguh, jika kesempatan itu masih ada, jika waktu masih mengijinkan kita untuk kembali memulai, takkan pernah aku sia-siakan itu lagi. Awalnya, aku hanya ingin mencoba menyadarkanmu, tapi ternyata kau lupa, bahwa masih ada seorang yang begitu mengkhawatirkanmu, merindukanmu, dan bahkan masih mencintaimu.
Dan saya merindukanmu, juga kita yang dulu.

Jumat, 20 Desember 2013

Kehilangan Sosokmu


      Suara gaduh kelas semakin membuncah. Pagi ini semua terasa begitu berbeda. Aku merasa hari ini berjalan lebih keras dari biasanya. Kelelahan, ketakutan seperti memelukku dengan sangat erat. Napasku semakin terengah-engah, aku terjerat. Entah, mengapa tak ada lagi semangat yang bersorak seperti awal. Ingatan itu kembali hadir dalam lamunanku. Ternyata keadaan mampu menyeretku masuk ke dalam bayang-bayang tentangmu.  Sepertinya rasa sakit ku semakin bertambah, 3 hari berlalu sejak pertemuan kita, aku masih mengingat tatapan itu, tatapan yang begitu ku kenali, tatapan yang selalu aku rindukan, tatapan yang selalu membawaku dalam keteduhan. Tapi, tubuhku seketika menjadi begitu kaku, ada yang aneh. Aku merasa semakin terhempas. Tatapanmu kosong, bahkan malam itu aku tidak mampu menemukan sosok yang biasa ku kenali, sosok yang selalu ku cari-cari.
    Tuan, sungguh, aku begitu merindukan kamu yang dulu. Saat kau mencoba mendekatkan kembali tubuhmu, saat mata kita saling bertemu aku menjadi semakin merasa kehilanganmu. Ada rasa bersalah yang menghantuiku, hingga aku begitu takut menatapmu. Mungkin pada awalnya memang semua ini adalah kesalahanku, yang melepasmu pergi sebelum mengetahui perasaan kita masing-masing. Aku semakin merasa sepi, hari-hari yang biasa aku lewati bersama kamu, kini berubah menjadi hari tanpa warna. Jujur Tuan, aku belum siap jika suatu waktu, entah kapan saatnya jika aku mendengar kabar dan berita tentangmu, bahwa kau sudah berbahagia dengan wanita lain, mungkin itu akan menjadi hal yang akan benar-benar menyayat hatiku. Tuan, sungguh aku tidak ingin kita yang sekarang, kita yang selalu terjaga dalam jarak, bertahan dalam diam, saling membela ego masing-masing, hingga begitu sulit untuk bertukar kabar.  Tuan, semoga kau sadar bahwa aku disini berjuang mempertahankan hati untukmu, hingga wakktu yang tepat datang pada kita, entah akhir takdir Tuhan akan berbicara seperti apa. Karena yang ku tahu, aku  akan tetap menjaga hati ini untukmu. Dan pahamilah tuan, tidak mudah bertahan sendiri di saat hati sedang begitu rapuh. Percayalah, cepat atau lambat Tuhan pasti akan membiarkan waktu yang menjawabnya. Dan, biarkan kini langkahku terseret jauh, semakin jauh, dan bahkan sangat jauh, hingga punggungmu menghilanang dari pandangan, hingga wajahmu benar-benar terhapus dari ingatan.

Ternyata Aku Salah


Akhirnya aku sampai pada tahap ini, hal yang tak pernah aku tunggu-tunggu. Posisi yang sebenarnya tak pernah aku bayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan terjatuh terlalu dalam. Ku kira langkahku sudah benar. Ku pikir anggapanku adalah segalanya. Meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Entah kenapa, hari-hariku tiba-tiba kosong dan berbeda. Mungkin kau pikir aku berlebihan, tentu saja kau berpikir seperti itu, karena kau tak berada di posisiku, kamu tak merasakan sesaknya menjadi aku. Ternyta usahaku untuk memperjuangkanmu selama ini sia-sia, dan mungkin jika dari awal aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak sedekat ini, hingga setelah menerima kenyataan rasanya begitu sangat menyesakkan. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Aku juga manusia biasa yang memiliki perasaan, ku harap kamu bisa memahami dan menyadari.
      Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kau tak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa ku mengerti. Aku masih belum mengerti, mengapa semua berakhir dengan sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu . aku hanya temanmu, temanmu, temanmu!!
Jika kau ingin tahu, selama ini aku kesesakan dengan semua perlakuanmu. Aku terkatung-katung sendirian. Membiarkan meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang sudah kulakukan, tapi kenapa matamu masih belum juga terbuka dan tertutup ragu?
Sejak dulu, harusnya aku tak perlu perhatikan kamu sedetil itu.  Mungkin jika dari awal aku tak pernah mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi.
      Iya. Aku bodoh, puas?
Mengetahui kenyantaan yang mencekam seperti ini, aku jadi malas tersenyum dan berbicara banyak tentang perasaanku kepada orang lain. Berbahagialah kamu dengan wanita pilihanmu,disini aku juga berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Kau tahu, karena yang kupahami, sejatinya cinta adalah ikhalas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun bukan bersamaku.
Tenanglah, aku akan berlajar melupakanmu. Biar aku yang mengobati luka ini sendiri dengan sekuat tenaga. Aku ingin kamu bahagia bersamanya, aku tak bisa berbuat banyak selain mendoakanmu dalam percakapan panjangku dengan tuhan. Maaf karena aku tak sempat membuatmu tersenyum.
Mungkin setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi, bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyum.

Selasa, 01 Oktober 2013

Jangan bilang itu kamu


Tolong cepat sadarkan aku! Semoga ini hanya mimpi.

      Siang ini aku sedang bersantai di kosanku, karena awalnya aku memang  berncana hari ini hanya akan menghabiskan waktu di kosan.  Maklum saja karena baru beranjak menjadi mahasiswa baru aku sering kali tidak mampu membagi waktu, aku jadi sering menghabiskan waktu diluar, mungkin juga karena kuliah yang masih belum aktif.  Tak lama beberapa menit setelah aku terlelap dalam tidur siang, teman kampusku datang, dia mengajakku untuk menemaninya bertemu dengan teman satu jurusannya. Ya akhirnya aku menemaninya. Kami menunggu di salah satu café dekat kampus.  Lumayan lama juga kami menunggu, akhirnya kedua wanita itu hadir.  Temanku memperkenalkan kedua sosok wanita itu kepadaku. Aku berjabat tangan dan Ah siyal, wanita berjilbab itu mengingatkanku pada sosok yang ingin sekali aku hilangkan dari ingatanku. Kenapa sosok kamu harus kembali hadir. 
      Wajahnya, matanya, begitu sempurna samanya dengan kamu, sebenarnya aku sudah tak ingin mengingatmu lagi. Hanya saja yang membedakan wanita berjilbab ini lebih putih dan tubuhnya lebih tinggi dari kamu. Entah kenapa aku jadi sedingin ini, aku yang memboncenginya merasa ada perasaan aneh yang lagi-lagi harus tumbuh disaat yang tidak tepat seperti ini. Wajahnya yang polos mulai bertanya-tanya tentang indentitasku, dia bertanya darimana asalku, dan aku hanya menjawab singkat. Entah sebenarnya aku merasa sangat bersalah, dia yang tidak mengerti apa-apa tentang perasaanku, harus menerima perlakuakanku yang seperti ini. Kenapa aku menjadi begitu enggan. Aku menyukai wanita ini, tapi di satu sisi lain aku benci karena wajahnya yang begitu sama denganmu. Bukan karena itu juga, perpisahanku dengan kamu juga terjadi belum lama dan kini aku harus menemukan sosok yang sama lagi denganmu. Tolong cepat sadarkan aku, tolong katakan bahwa aku belum terbangun dari mimpi-mimpiku selama ini, tolong sampaikan bahwa dia hanyalah bayangan yang mnyerupai kamu. Tolong yakinkan bahwa semua yang aku lihat hanya ilusi yang semu. 

Feeling


      Desir pasir dengan lantunan melodi indah yang tercipta dari gelombang pesisir pantai, angin sore bertiup kencang melawati setiap helaian rambut, membawa paksa tubuh ini untuk mengikuti setiap gerak gerik gelombang yang masih begitu angkuh untuk meredam. Menggelitiki tubuhku yang mulai rapuh hingga merasa kedinginan.  Namun, sepertinya usaha angin kali ini tidak begitu mempan untukku. Karena nyatanya aku tak memedulikan seberapa banyak angin yang menyusup masuk dalam tubuhku. Karena entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

     Aku masih duduk disini, tepatnya di tepi pantai. Masih saja aku termenung sambil menatap kehindahan ciptaan tuhan yang menyejukan setiap tatapan yang melihatnya. Mataku masih tak mau berhenti mengamati dan menatap setiap detail keindahan alam yang tuhan ciptakan. Akupun masih dapat merasakan sentuhan angin pantai yang begitu sejuk. Tanpa tersadar, aku menggeleng keras-keras. Mencoba menyadarkan diri dari bayangan yang mulai berlari-lari di pikiranku. Wajahnya yang begitu dingin tapi begitu kaku saat menanyakan keadaanku. Hingga ekspresi gengsi di wajahnya masih begitu nyata saat tatapannya bersentuhan dengan tatapanku.

      Tapi kini, aku tak lagi tahu segala hal tentangmu, kau terlalu cepat menghilang dari hadapanku. Sepertinya sekarang kau sudah benar-benar membenciku. Mungkin sikapku memang sudah terlalu menyebalkan untukmu. Mungkin kamu tidak akan pernah menemuiku lagi. Bodoh! Untuk apa aku berharap agar di pertemukan lagi dengannya. Aku memukul-mukul kepalaku agar dapat berpikir dengan normal kembali. Seharusnya aku tidak berpikir untuk jatuh cint#$&?~ hah? Apa-apaan ini? Pikiranku sepertinya mulai  terkontaminasi. Perasaan yang absurd mulai datang. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada lelaki yang angkuh dan sombong sepertimu, yang tak bisa menghargai perasaanku, yang selalu menganggap remeh perjuanganku, kamu yang patahin hati aku. Dan kamu juga yang buat semua tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahin aku kalo akhirnya aku berubah. Hak kamu jika perubahanku membuat kebencian pada dirimu. Coba kamu pikirkan kembali, sebenarnya siapa yang lebih pantas di benci?
       
      Namun, tak dapat ku pungkiri, jantungku tak dapat berhenti berdetak dengan tempo cepat setiap teringat akan segala sikapmu. Bibirku rasanya seperti ditarik untuk mengutarakan seulas senyum tipis. Ah sial! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tak mungkin jika aku terus memperjuangkanmu sementara kau dengan mudahnya menjatuhkanku, setelah kau bawa aku terbang tinggi.  Kau tak mengerti, disaat yang kau tahu aku baik-baik saja, sebenarnya aku tak pernah baik-baik saja, dan disaat itu juga, sebenarnya aku begitu membutuhkan sosokmu. Wajah dingin itu kembali terbayang di kepalaku. Aku menggelengkan kepala sebelum bayangan itu akan benar-benar menjerat. Ada apa dengan perasaan ini? Dia hanyalah orang yang menyebalkan, kenapa aku masih terus memperjuangkannya yang sudah jelas-jelas tahu, semua hanya akan berujung pada pengabaian. Tapi sungguh, aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Bahkan aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Kenapa kau masih tak dapat menerima kehadiranku? Sekalipun itu tanpa maksud untuk mengganggumu?

        Lidahku semakin kelu, tatapanku semakin samar, tanpa sadar waktu sudah begitu cepat membawaku larut dalam lamunan tentangnya. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanku. Ah ternyata senja telah berganti malam, lebih baik aku pulang.

Biarkan Aku Menunggu


      Sore ini bersama senja aku masih di hantui dengan mimpi-mimpiku yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Sayang apa kamu tahu, menunggu bukanlah hal yang lagi rumit bagiku. Jadi biarkan aku tetap menunggumu meski aku tahu kita takkan mungkin lagi menyatu, meski aku tahu kau takkan pernah menggubris segala isyaratku, jadi biarkan aku bermain bersama ilusiku. Sayang, aku memang pernah tersenyum tapi itu dulu disaat kamu belum berubah menjadi sosok asing dalam hidupku. Sungguh, seberapa keras kamu menjauh dariku, rasa rindu, dan rasa cinta yang ada takkan pernah terkikis. Aku takkan pernah lelah menantimu.  Maafkan aku yang tak pernah bisa untuk menjadi sosok yang sempurna di matamu. Dalam barisan senja, dalam deretan waktu yang sudah aku lewati, aku masih dan akan selalu berdiri disini; di garis penantian tanpa batas. Disana masih ada bayangmu yang terus menyertku sangat jauh tanpa ada cahaya sebagai penerang jalanku. Banyak luka yang tergores, tapi kau malah tersenyum kemudian pergi dengan mudahnya. Kini aku biarkan kamu memilih jalan yang menurutmu itu pilihan yang terbaik. Dan jika menjauh adalah satu-satunya yang aku miliki, aku (terpaksa) melakukannya. Demi kebaikan kita. tapi pahamilah, aku tetap akan berdiri di belakangmu, memperhatikanmu dari kejauhan, kemuadian memakai topeng, agar kau tak tahu bagaimana aku kini karena sikapmu.

Minggu, 28 Juli 2013

Terakhir

      Beginilah aku sekarang, berusaha menutup diri dan membuang kuncinya sejauh mungkin. Jadi ini yang disebut pengorbanan, saat aku bilang "jaga dia baik-baik ya" padahal hati ini sakit saat aku merasa jatuh ke dalam lubang yang lebih jauh lagi. Bahagiaku sederhana, saat aku bisa melihatmu bahagia meski tanpa aku, saat semuanya tampak sempurna bagimu, tapi hancur bagiku. Tiba saatnya aku terdampar dalam tabung waktu, menutup semua pintu dan tenggelam bersama kalbu. Bisa mencintamu begitu indah untukku, mungkin penuh dengan pilu, tapi tertutup oleh semua rasa rindu. ini aku, wanita yang bukan pilihanmu, yang menjadikan tujuan dari segala penantian. Desiran angin menampar wajahku, membangunkan ku dari semua lamunank, mungkin terdengar gila, tapi sekali lagi ini masih tentangmu,
    Alunan musik mengalun dengan lugu, menyusun setiap bait di pikiranku, melewati lorong gelap dan menelusuri setiap rintangan. Aku seperti berada dalam titik terendah menikmati setiap luka hingga aku menyerah. Setiap air mata mempunyai cerita, cerita yang ku pikiur suka, ternyata hanya ada duku. ini apa? Bagiku mungkin cinta, tapi kenapa mereka bilang aku gila? ku lihat sosokmu di tepi jalan, kamu begitu indah seperti di pahat langsung oleh tangan tuhan, dan kamu begitu indah untuk dilupakan begitu saja, dan begitu indah untuk meniadakan segala kenangan. Bisikan angin membawa pergi rinduku padamu, meski tak membawa ragaku padamu, tapi jiwa ini tetap mengikutimu. Aku hanya mencintaimu, mencintaimu karenaNYA, mencintaimu karena keikhlasan, kepasrahan, dan rasa syukurku padanya. kelopak demi kelopak kususun berbaris, menyebabkan aroma kehangatan yang tertutup pita kecil. Jadikan ini memori, jadikan ini satu dari milikmu yang dulu. Nikmati hari ini, Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, esok, dan mungkin nanti.

Sederhana

       Cinta ternyata hanya butuh sebuah kesederhanaan. Tentang bagaimana kamu memeluknya, menjaganya, terlebih mengikhlaskannya. Sederhana saja, kamu selalu mengajariku banyak hal, cara tertawa dalam kesedihan, cara tersenyum dalam kemunafikan, cara menghargai perbedaan, cara belajar dari kesalahan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan. sederhana bukan?
       Lagi-lagi semua harus tentang kita. cerita cinta memang tidak selalu atas dari dua orang, karena realita telah berbicara lebih banyak dari sebuah angan., karena air mata berbicara lebih lentang dari segores senyuman. Hentikasn kata maaf mu! lihatlah aku. anggap aku baik-baik saja tanpa kamu, dan aku akan menganggapmu demikian tanpa aku. anggap aku bayanganmu, dan aku akan hidup denganmu.
      Bukankah hidup itu tentang pengalaman dan pelajaran. Tentang kehilangan dan kembali menemukan. ini perjalanan sederhanaku. Aku masih tanpa kamu. Masih akan ada puisi untukmu, semua untaian kata yang tujuannya menggambarkan setiap debar jantung yang terteram dalam benakku saat berdiri melihat kedua bola mata indah itu. aku kenal tatapan itu, ohya aku ingat! tatapan itu pernah menjadi milikku. Tatapanmu hangat sehangat sentuhan jemarimu untuk meredakan dingin di sekujur tubuhku. begitu sederhana dengan serpihan canda. tapi Tuhan tahu kamu hanya berniat menyederhanakan perasaanku, bukan untuk terjun membalas cintaku.

Rabu, 10 Juli 2013

Kepergiannya


Mungkin sesuatu yang sudah seharusnya ku lepaskan tak perlu lagi ku perjuangkan. Karena itu memang keputusan yang terbaik, walaupun terlihat sedikit tidak adil. Karena yang ku tahu adil adalah ketika yang berjuang bukan hanya aku, tapi kita.  Kamu atau aku, kita memang berhak untuk menentukan pilihan yang terbaik, tapi tidak semua pilihan yang kau anggap baik akan membuatmu mendapatkan apa yang kaun inginkan bukan. Ah sudahlah..
      sore ini, aku melakukan kesalahan lagi, mungkin lebih tepatnya kesalahan pada diriku sendiri. Aku telah mengetahui apa yang seharusnya sudah ku ketahui sejak awal perkenalan kita. Kenapa sore ini aku harus pergi ke taman. Sesuatu yang tidak baik akan terjadi, aku merasa hal buruk itu sudah di depan mata. Jantungku mulai berdetak tidak stabil, ada sesuatu yang menyesakkan. Aku pikir sebelumnya ini hanya mimpi buruk, mungkin aku hanya tertidur, dan setelah bangun semua akan menjadi seperti biasa lagi.  Ternyata semua nyata.
    Samar-sama ku lihat kedua sosok yang hadir ujung pengelihatanku, aku bisa merasakan kedekatan mereka, bergandengan tangan, saling membagi kebahagiaan di pinggir pantai taman kota. Aku mengenali sosok pria itu, sosok yang selama ini begitu aku percayai, sosok yang selama ini ku kira mampu menjaga dan mampu memperbaiki setiap mozaik-mozaik hatiku yang telah patah. Tapi kulihat dia bersama sosok lain, sosok yang bahkan tak pernah ku ketahui sebelumnya, wanita cantik, dengan rambut panjang yang indah. Seketika seluruh tubuhku yang sebagian masih melayang di dalam mimpi, langsung berkumpul dan membuatku berdiri dalam kesadaran penuh.
     Selama ini aku terlalu fokus pada hubungan ini, tanpa ku pernah ketahui ada sosok lain di balik layar kehidupannya, selain aku. Dulu, dia sering kali mengatakan padaku, ingin menghabiskan setiap detik yang dia punya dengan hidup bersamaku. Tapi nyatanya, semuat tak sesuai yang ia katakana.  Aku menarik napas berat,  aku merasakan dadaku mulai memanas. Sudah saatnya semua ini berakhir. Tak bisa jika selamanya aku harus berada dalam posisi sebodoh ini. Ku rasakan kakiku makin melemas, aku berpegangan erat pada kursi taman sebelum aku memutuskan untuk menghampiri mereka.
 “Dara, apa yang kau lakukan disini?” ujar yoga yang terkejut melihat keberadaanku di taman.
“ Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini bersama wanita yang tak pernah ku ketahui, bahkan kau begitu mesra kepadanya. Jelas-jelas kau sudah memiliki wanita” jaawabku dengan emosi yang sudah memuncak.
(wanita itu hanya terkejut tanpa kata, melihat kami)
“ Aku bisa jelaskan semua ini dara, tunggu!!” ujarnya tegas sambil menahanku yang akan pergi.
“ sudahlah yoga, tak perlu ada yang kau jelaskan lagi, semua sudah cukup jelas, dan kini aku tahu alasan mengapa kau begitu asik dengan duniakmu tanpa pernah peduli bagaimana perasaanku, ku rasa hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir.” (dengan mata yang mulai sembab perlahan aku berjalan menjauhi mereka)
“maafkan aku dara” ujarnya pelan.
         Mungkin akan lebih baik jika aku kembali pulang kerumah untuk menenangkan pikiran. Ku buka pintu kamar perlahan. Dengan napas yang terengah-engah dan jalan yang sempoyongan aku  melangkah memasuki kamar dengan perasaan yang begitu hancur, benar-benar tak di sangka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita itu setelah kehadiran ku yang secara tiba-tiba seperti tadi. Entahlah, untuk apa juga aku memikirkannya, sudah jelas wanita itu yang telah menghancurkan hubunganku dengan yoga.  Kenapa yoga melakukan semua ini kepadaku, padahal hidupku sudah terasa membaik setelah kehadirannya di sisiku. Yang aku rasakan sekarang hanya ketakutan yang began itu besar. Ketakutan karena aku telah kehilangan hal yang paling berharga bagiku. Dan kini aku sudah tak mampu menahan air mataku yang sejak tadi sudah mendesak ingin keluar karena kepergiannya.