Total Tayangan Halaman

Selasa, 01 Oktober 2013

Jangan bilang itu kamu


Tolong cepat sadarkan aku! Semoga ini hanya mimpi.

      Siang ini aku sedang bersantai di kosanku, karena awalnya aku memang  berncana hari ini hanya akan menghabiskan waktu di kosan.  Maklum saja karena baru beranjak menjadi mahasiswa baru aku sering kali tidak mampu membagi waktu, aku jadi sering menghabiskan waktu diluar, mungkin juga karena kuliah yang masih belum aktif.  Tak lama beberapa menit setelah aku terlelap dalam tidur siang, teman kampusku datang, dia mengajakku untuk menemaninya bertemu dengan teman satu jurusannya. Ya akhirnya aku menemaninya. Kami menunggu di salah satu cafĂ© dekat kampus.  Lumayan lama juga kami menunggu, akhirnya kedua wanita itu hadir.  Temanku memperkenalkan kedua sosok wanita itu kepadaku. Aku berjabat tangan dan Ah siyal, wanita berjilbab itu mengingatkanku pada sosok yang ingin sekali aku hilangkan dari ingatanku. Kenapa sosok kamu harus kembali hadir. 
      Wajahnya, matanya, begitu sempurna samanya dengan kamu, sebenarnya aku sudah tak ingin mengingatmu lagi. Hanya saja yang membedakan wanita berjilbab ini lebih putih dan tubuhnya lebih tinggi dari kamu. Entah kenapa aku jadi sedingin ini, aku yang memboncenginya merasa ada perasaan aneh yang lagi-lagi harus tumbuh disaat yang tidak tepat seperti ini. Wajahnya yang polos mulai bertanya-tanya tentang indentitasku, dia bertanya darimana asalku, dan aku hanya menjawab singkat. Entah sebenarnya aku merasa sangat bersalah, dia yang tidak mengerti apa-apa tentang perasaanku, harus menerima perlakuakanku yang seperti ini. Kenapa aku menjadi begitu enggan. Aku menyukai wanita ini, tapi di satu sisi lain aku benci karena wajahnya yang begitu sama denganmu. Bukan karena itu juga, perpisahanku dengan kamu juga terjadi belum lama dan kini aku harus menemukan sosok yang sama lagi denganmu. Tolong cepat sadarkan aku, tolong katakan bahwa aku belum terbangun dari mimpi-mimpiku selama ini, tolong sampaikan bahwa dia hanyalah bayangan yang mnyerupai kamu. Tolong yakinkan bahwa semua yang aku lihat hanya ilusi yang semu. 

Feeling


      Desir pasir dengan lantunan melodi indah yang tercipta dari gelombang pesisir pantai, angin sore bertiup kencang melawati setiap helaian rambut, membawa paksa tubuh ini untuk mengikuti setiap gerak gerik gelombang yang masih begitu angkuh untuk meredam. Menggelitiki tubuhku yang mulai rapuh hingga merasa kedinginan.  Namun, sepertinya usaha angin kali ini tidak begitu mempan untukku. Karena nyatanya aku tak memedulikan seberapa banyak angin yang menyusup masuk dalam tubuhku. Karena entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

     Aku masih duduk disini, tepatnya di tepi pantai. Masih saja aku termenung sambil menatap kehindahan ciptaan tuhan yang menyejukan setiap tatapan yang melihatnya. Mataku masih tak mau berhenti mengamati dan menatap setiap detail keindahan alam yang tuhan ciptakan. Akupun masih dapat merasakan sentuhan angin pantai yang begitu sejuk. Tanpa tersadar, aku menggeleng keras-keras. Mencoba menyadarkan diri dari bayangan yang mulai berlari-lari di pikiranku. Wajahnya yang begitu dingin tapi begitu kaku saat menanyakan keadaanku. Hingga ekspresi gengsi di wajahnya masih begitu nyata saat tatapannya bersentuhan dengan tatapanku.

      Tapi kini, aku tak lagi tahu segala hal tentangmu, kau terlalu cepat menghilang dari hadapanku. Sepertinya sekarang kau sudah benar-benar membenciku. Mungkin sikapku memang sudah terlalu menyebalkan untukmu. Mungkin kamu tidak akan pernah menemuiku lagi. Bodoh! Untuk apa aku berharap agar di pertemukan lagi dengannya. Aku memukul-mukul kepalaku agar dapat berpikir dengan normal kembali. Seharusnya aku tidak berpikir untuk jatuh cint#$&?~ hah? Apa-apaan ini? Pikiranku sepertinya mulai  terkontaminasi. Perasaan yang absurd mulai datang. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada lelaki yang angkuh dan sombong sepertimu, yang tak bisa menghargai perasaanku, yang selalu menganggap remeh perjuanganku, kamu yang patahin hati aku. Dan kamu juga yang buat semua tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahin aku kalo akhirnya aku berubah. Hak kamu jika perubahanku membuat kebencian pada dirimu. Coba kamu pikirkan kembali, sebenarnya siapa yang lebih pantas di benci?
       
      Namun, tak dapat ku pungkiri, jantungku tak dapat berhenti berdetak dengan tempo cepat setiap teringat akan segala sikapmu. Bibirku rasanya seperti ditarik untuk mengutarakan seulas senyum tipis. Ah sial! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tak mungkin jika aku terus memperjuangkanmu sementara kau dengan mudahnya menjatuhkanku, setelah kau bawa aku terbang tinggi.  Kau tak mengerti, disaat yang kau tahu aku baik-baik saja, sebenarnya aku tak pernah baik-baik saja, dan disaat itu juga, sebenarnya aku begitu membutuhkan sosokmu. Wajah dingin itu kembali terbayang di kepalaku. Aku menggelengkan kepala sebelum bayangan itu akan benar-benar menjerat. Ada apa dengan perasaan ini? Dia hanyalah orang yang menyebalkan, kenapa aku masih terus memperjuangkannya yang sudah jelas-jelas tahu, semua hanya akan berujung pada pengabaian. Tapi sungguh, aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Bahkan aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Kenapa kau masih tak dapat menerima kehadiranku? Sekalipun itu tanpa maksud untuk mengganggumu?

        Lidahku semakin kelu, tatapanku semakin samar, tanpa sadar waktu sudah begitu cepat membawaku larut dalam lamunan tentangnya. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanku. Ah ternyata senja telah berganti malam, lebih baik aku pulang.

Biarkan Aku Menunggu


      Sore ini bersama senja aku masih di hantui dengan mimpi-mimpiku yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Sayang apa kamu tahu, menunggu bukanlah hal yang lagi rumit bagiku. Jadi biarkan aku tetap menunggumu meski aku tahu kita takkan mungkin lagi menyatu, meski aku tahu kau takkan pernah menggubris segala isyaratku, jadi biarkan aku bermain bersama ilusiku. Sayang, aku memang pernah tersenyum tapi itu dulu disaat kamu belum berubah menjadi sosok asing dalam hidupku. Sungguh, seberapa keras kamu menjauh dariku, rasa rindu, dan rasa cinta yang ada takkan pernah terkikis. Aku takkan pernah lelah menantimu.  Maafkan aku yang tak pernah bisa untuk menjadi sosok yang sempurna di matamu. Dalam barisan senja, dalam deretan waktu yang sudah aku lewati, aku masih dan akan selalu berdiri disini; di garis penantian tanpa batas. Disana masih ada bayangmu yang terus menyertku sangat jauh tanpa ada cahaya sebagai penerang jalanku. Banyak luka yang tergores, tapi kau malah tersenyum kemudian pergi dengan mudahnya. Kini aku biarkan kamu memilih jalan yang menurutmu itu pilihan yang terbaik. Dan jika menjauh adalah satu-satunya yang aku miliki, aku (terpaksa) melakukannya. Demi kebaikan kita. tapi pahamilah, aku tetap akan berdiri di belakangmu, memperhatikanmu dari kejauhan, kemuadian memakai topeng, agar kau tak tahu bagaimana aku kini karena sikapmu.