Mimpi-mimpi ini semakin melekat ceritamu
Enggan lepas hingga melengkungkan kesedihan di jejak kaki
Sangat perih, dan sepertinya aku telah terlempar jauh di
pusaran penantian
adakah seyum lugumu lagi?
Datanglah, karena aku masih disini menunggumu, di garis
penantian
Datanglah meski hanya sebatas basah embun
Di balik senja rindu ini masih ku jaga untukmu
Bukan hal yang mampu membuatku terbiasa
Dengan mengasingkanmu begitu jauh dari senja di sepotong
soreku
Hingga menghasilkan sepi yang semakin menjerat
Ketakutanku menjelma jadi nyata
Merangkak dalam kebisuan, bagai debu yang membabibuta
tersapu angin
Malam sudah terlalu lama menjeratku dalam kesunyian
Dalam gelap aku tak lagi mampu menemukan sosokmu
Aku berlari, dan terus saja berlari
Berhentilah! Ku mohon, lihatlah ada aku. Bagaimana mungkin
aku mampu beranjak pergi
Sementara larik-larik senyummu semakin menjelma lukisan
terang yang memenuhi kegelisahanku.
Lelah…
Hanya ada getar lemah yang tersisa, tanpa wujud sapa
Aku hanya bisa menerima jika ini memang seharusnya
Ketika hati menyapa ruang hampa
“Tuhan, temaniku dalam gelisah ini. Itu saja”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar