Total Tayangan Halaman

Senin, 23 Desember 2013

Pecahan Puzzle

     Aku masih menatap langit-langit kamar, suara hujan ternyata masih begitu merdu menemaniku dari yang perlahan semakin terjerat dengan kebisuan. Tanpa sadar mataku semakin sembab, air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Bayangannya, sosoknya, seketika hadir dalam lamunanku . Ternyata aku masih begitu merindukannya. Selama ini aku sudah terlalu lama menari dalam hujan, menutup telinga rapat-rapat, mengunci mulut, hingga begitu sulit mengakui keadaan hati yang goresannya sudah semakin melebar.  Sudah beberapa hari ini berlalu, aku sudah berusaha membuat diriku sibuk dengan segala rutinitasku di kampus, tapi nyatanya masih begitu sulit untuk melupakan seseorang yang terbiasa ada di sampingku, dan itu adalah kamu. Beberapa minggu ini aku berusaha memastikan diriku, bahwa tanpa kamupun aku masih bisa untuk tetap berjalan. Sesekali, saat gelap malam datang, rasa sepi itupun kembali datang. Biasakah kau berhenti berotasi dalam otakku? bisakah bayanganmu enyah untuk sekejap aja? Aku lelah karena harus terus berusaha berlari, sementara bayanganmu masih terus mengejar dan menjeratku semakin erat. 
     Aku takut menatapmu, tatapan matamu tak lagi seteduh dulu. Kau seperti rintik hujan yang setiap saat berada di bawah rintiknya, badanku pasti akan merasa menggigil dan sakit karena tertusuk rintikannya. Begitupun kamu, sekarang kamu berbeda. Saat di dekatmu terasa seperti ada yang menggores hatiku, benar-benar merasa tersayat. Kau berubah menjadi seorang yang tak pernah ku ketahui. Tolong, biarkan aku menjauh, biarkan sepi, sunyi, dan senyap menemaniku saat ini. Biarkan aku mengobati perasaanku sendiri untuk sementara waktu. Selama ini kita terlalu angkuh, karena  lebih mementingkan keegoisan dari pada kebahagiaan kita. Kau terlalu menutup diri tentang perasaanmu, dan aku yang tak pernah bisa untuk memahamimu. Apa mungkin Takdir tuhan memang tak pernah berpihak pada kita? Jika itu memang benar, aku akan lebih menutup telinga rapat-rapat lagi, akan kututup mataku, agar tak ada lagi yang tersakiti, agar tak ada lagi yang terluka. Maaf, karena aku tak lagi mampu mengokohkan langkahmu, menopangmu, dan tak lagi mampu berada di sampingmu.
      Maaf untuk setiap rasa kecewa yang ku goreskan di hatimu. Maaf untuk kehadiranku yang membuatmu kembali memasuki ruang masa lalumu. Sungguh, jika kesempatan itu masih ada, jika waktu masih mengijinkan kita untuk kembali memulai, takkan pernah aku sia-siakan itu lagi. Awalnya, aku hanya ingin mencoba menyadarkanmu, tapi ternyata kau lupa, bahwa masih ada seorang yang begitu mengkhawatirkanmu, merindukanmu, dan bahkan masih mencintaimu.
Dan saya merindukanmu, juga kita yang dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar