Aku masih menatap langit-langit
kamar, suara hujan ternyata masih begitu merdu menemaniku dari yang perlahan
semakin terjerat dengan kebisuan. Tanpa sadar mataku semakin sembab, air mata
perlahan jatuh membasahi pipi. Bayangannya, sosoknya, seketika hadir dalam
lamunanku . Ternyata aku masih begitu merindukannya. Selama ini aku sudah terlalu
lama menari dalam hujan, menutup telinga rapat-rapat, mengunci mulut, hingga
begitu sulit mengakui keadaan hati yang goresannya sudah semakin melebar. Sudah beberapa hari ini berlalu, aku sudah
berusaha membuat diriku sibuk dengan segala rutinitasku di kampus, tapi
nyatanya masih begitu sulit untuk melupakan seseorang yang terbiasa ada di
sampingku, dan itu adalah kamu. Beberapa minggu ini aku berusaha memastikan diriku,
bahwa tanpa kamupun aku masih bisa untuk tetap berjalan. Sesekali, saat gelap
malam datang, rasa sepi itupun kembali datang. Biasakah kau berhenti berotasi
dalam otakku? bisakah bayanganmu enyah untuk sekejap aja? Aku lelah karena
harus terus berusaha berlari, sementara bayanganmu masih terus mengejar dan
menjeratku semakin erat.
Aku takut
menatapmu, tatapan matamu tak lagi seteduh dulu. Kau seperti rintik hujan yang
setiap saat berada di bawah rintiknya, badanku pasti akan merasa menggigil dan
sakit karena tertusuk rintikannya. Begitupun kamu, sekarang kamu berbeda. Saat
di dekatmu terasa seperti ada yang menggores hatiku, benar-benar merasa
tersayat. Kau berubah menjadi seorang yang tak pernah ku ketahui. Tolong,
biarkan aku menjauh, biarkan sepi, sunyi, dan senyap menemaniku saat ini.
Biarkan aku mengobati perasaanku sendiri untuk sementara waktu. Selama ini kita
terlalu angkuh, karena lebih
mementingkan keegoisan dari pada kebahagiaan kita. Kau terlalu menutup diri
tentang perasaanmu, dan aku yang tak pernah bisa untuk memahamimu. Apa mungkin
Takdir tuhan memang tak pernah berpihak pada kita? Jika itu memang benar, aku
akan lebih menutup telinga rapat-rapat lagi, akan kututup mataku, agar tak ada
lagi yang tersakiti, agar tak ada lagi yang terluka. Maaf, karena aku tak lagi
mampu mengokohkan langkahmu, menopangmu, dan tak lagi mampu berada di
sampingmu.
Maaf untuk setiap rasa kecewa yang ku goreskan di hatimu. Maaf untuk
kehadiranku yang membuatmu kembali memasuki ruang masa lalumu. Sungguh, jika kesempatan
itu masih ada, jika waktu masih mengijinkan kita untuk kembali memulai, takkan
pernah aku sia-siakan itu lagi. Awalnya, aku hanya ingin mencoba menyadarkanmu,
tapi ternyata kau lupa, bahwa masih ada seorang yang begitu mengkhawatirkanmu,
merindukanmu, dan bahkan masih mencintaimu.
Dan saya merindukanmu, juga kita yang
dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar