Kadang
aku gak mengerti dengan perasaanku sendiri, sudah terlalu membeku, sampai
begitu sulit untuk kembali di cairkan. Aku masih saja belum mampu memaksa
hatiku untuk tidak lagi mencintaimu, dan aku masih saja belum mampu menghilangkan
rasa cinta yang bahkan telah lama membusuk dalam hati. Entah aku memang tidak
tahu wujud dari Cinta itu sendiri, karena aku cuma bisa memahami sebagian cinta
itu dari kamu. Ya, cuma kamu yang perlahan bisa membuat aku mengerti arti
sebuah ketulusan untuk menunggu, menunggu hal yang bahkan belum aku ketahui
apakah aku akan mendapat kepastian darimu atau
tidak. Karena yang aku tahu rasa ini ada untuk kamu, cinta ini ada
karena aku terbiasa bergurau dengannya. Entah kamu mau anggap ini konyol atau
bodoh.
Dari kamu juga aku bisa tau apa arti dari sebuah kenangan itu, ya walau
aku tahu mungkin kenangan yang pernah ada di antara kita hanya berisikan
sedikit kebahagiaan, sisannya hanya sebuah luka dan air mata. Tapi itu tidak
menjadikkan alasan untukku, karena seburuk apapun kenangan itu, tetap pernah ada
kita di dalamnya, dan lagi-lagi aku tak mampu untuk menanggalkannya. Maafkan
aku yang tak bisa menahan ketika rasa rindu ini mulai bersorak ingin keluar untuk
menghilangkan rasa dahaganya. maafkan aku yang masih saja diam-diam
mencintaimu, bahkan juga ikut menangisimu dalam hati. Ya lagi-lagi inilah
cinta, aku harus rela berkorban. Mungkin rasa yang kamu miliki tak lagi sama
seperti dulu, bahkan mungkin cinta yang dulunya utuh kini telah memudar hingga
kau tak lagi tahu bagaimana rasanya menjadi aku, bagaimana rasanya harus
bertahan sendiri demi sebuah penyatuan. Awalnya aku pikir “Aku bahagia lihat
kamu sama dia asalkan aku bisa liat senyum kamu terus, meski itu bukan sama
aku” tapi bulshit aku bahkan masih gak bisa terima kita putus, apalagi harus
liat kamu jalan dan sampai jadian sama yang lain . Sampai kapan? Sampai kapan
kamu mau terus bersikap angkuh seperti itu? Mungkin dia bisa buat kamu jatuh
cinta, tapi satu hal yang gak akan kamu temukan dan dapatkan, Ketulusan seperti
yang aku punya untuk tetap bertahan dengan kamu. Karena nanti akan ada saatnya
dimana kamu tak lagi mampu menemukan sesorang yang begitu tulus mencintaimu
seperti aku, bahkan kamu takkan pernah bisa lagi merasakan perhatian yang
bahkan begitu dalam.
Aku Cuma bisa berharap pada tuhan, semoga pada akhirnya
nanti kamu tidak terluka. Entah untuk keberapa malam lagi, entah untuk keberapa
hari lagi yang harus aku lewatin tanpa kamu. Aku mencoba bertahan sendiri disini,
berusaha menyempurnakan kepingan hati yang telah hancur tanpa bentuk, entah
sudah keberapa maaf yang telah aku berikan untuk setiap kesalahan yang selalu
kau ulangi. Entah sudah berapa banyak tetes air hujan yang menghapus setiap
goresan luka kesedihan ini. Waktu dan doa, aku hanya berharap keduanya bisa
berjalan beriringan untuk menyatukan kepingan hati ini. Aku tahu sebesar apapun
usahaku untuk memperbaiki kepingan hati ini, takkan bisa membuatnya utuh bahkan
sempurna seperti awal lagi. Siapapun yang ada di sampingku saat ini tak akan bisa
menggantikan posisi kamu di hatiku, karena aku tak bisa menemukan sosok kamu
dalam diri yang lain, karena yang aku butuh ‘KAMU’. Bahkan waktu terlalu cepat
membawa setiap kenangan yang kita miliki, kamu terlalu mudah melupakan semuanya,
karena kamu yang mungkin takkan pernah tau bagaimana debaran jantung ini
berdetak ketika tatapan kita saling bertemu.
Karena kamu takkan pernah mengerti
bagaimana bertahan dalam waktu yang begitu lama hanya untuk mempertahankan
sebuah rasa, karena kamu juga takkan pernah tahu bagaimana rapuhnya hati ini
melihat kebahagiaan di wajahmu ada karena dia,bukan aku. Sering terlintas untuk
meninggalkan, karena kamupun sudah tak ingin lagi untuk aku perjuangkan.
Bagaimana bisa aku bertahan sendiri sementara kamu tertawa bersama dia. Aku masih
mencintaimu dan jujur aku masih belum benar-benar siap untuk kehilanganmu, apa
lagi yang harus aku korbankan? Sementara kamu tak pernah sedikitpun menghargai.
Apalagi yang akan kamu berikan kepadaku selain luka dan kecewa? Apa ini layak
di bilang sebuah cinta? Jika kamu pikir aku belum mampu untuk membuatmu
bahagia, tapi percaya satu hal, aku tidak akan menyakitimu. Tapi sayang, hatimu
terlalu keras. Ya memang, tak masalah bagiku karena aku sudah terbiasa
menikmati setiap luka dari kamu. Kamu yang mengajariku untuk tetap bertahan,
untuk tetap berdiri di saat patah sekalipun, ya aku tau ini memang salahku yang
mungkin terlalu peduli kepadamu hingga begitu mudahnya luka menyakitiku. Tapi
aku takut jika aku tak lagi peduli kepadamu aku akan kehilanganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar