Satu minggu perkenalan kita berjalan, memang
begitu singkat. Tapi nyatanya rasa yang hadir begitu cepat merasuk dalam
tubuhku. Perkenalan kita memang tak pernah ku reka-reka bahkan kuduga, aku tak
pernah merencanakan pertemuan, karena itu telah menjadi takdir tuhan. Aku menikmati setiap detik yang kita lewati,
pertemuan tak nyata buktinya mampu membuat rasa rinduku semakin tak
menentu. Kita mulai melwati setiap waktu
kosong dengan menggunakan Skype, karena
hanya dengan menggunakannya aku bisa melihat senyummu. Meskipun merasa tak lega
tapi setidaknya hanya dengan melihat wajah dan senyummu dari layar laptop mampu
menghilangkan sedikit rasa dahaga di rinduku.
Kau
mulai bersikap bodoh dan konyol, dengan membuat ejekan kecil untukku, membuat
nama kesayangan untukku, begitupun aku.
Aku
tak pernah berpikir untuk bisa menjadi milikmu, karena mungkin itu mustahil,
kau terlalu sempurna, bahkan mungkin sudah begitu banyak wanita yang menunggumu
disana. Tapi apa mungkin hati dan perasaanku yang salah karena telah
mengenalmu, lalu mencintaimu? Tapi kenapa kau tak pernah percaya, kau hanya
menggap rinduku sebagai piyik yang bergombal, kehadiranmu merubah segalanya,
aku tak pernah merasa senyaman ini. Maaf jika aku terlalu cerewet ketika kamu
disana kehujanan, maaf jika aku terlalu peduli saat kamu sakit tetapi aku tak
bisa ada di sampingmu. Entah, aku merasa kau juga memiliki perasaan yang sama.
Aku menyukai kepolosanmu, kekonyolanmu, sederhana. kau berubah-ubah layaknya
bunglon, kadang menyenangkan, menyebalkan, dan itu yang membuatku semakin
menyukaimu. Aku tak ingin jika semua perhatianmu yang selama ini ku anggap
sebagai bentuk cinta adalah salah. Bahkan aku takut, aku takut kehilangan kamu,
seseorang yang belum pernah aku miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar