Desir pasir dengan lantunan melodi
indah yang tercipta dari gelombang pesisir pantai, angin sore bertiup kencang
melawati setiap helaian rambut, membawa paksa tubuh ini untuk mengikuti setiap
gerak gerik gelombang yang masih begitu angkuh untuk meredam. Menggelitiki
tubuhku yang mulai rapuh hingga merasa kedinginan. Namun, sepertinya usaha angin kali ini tidak
begitu mempan untukku. Karena nyatanya aku tak memedulikan seberapa banyak
angin yang menyusup masuk dalam tubuhku. Karena entah mengapa ada rasa hangat yang
menjalar ke seluruh tubuh.
Aku masih duduk disini, tepatnya di
tepi pantai. Masih saja aku termenung sambil menatap kehindahan ciptaan tuhan
yang menyejukan setiap tatapan yang melihatnya. Mataku masih tak mau berhenti
mengamati dan menatap setiap detail keindahan alam yang tuhan ciptakan. Akupun
masih dapat merasakan sentuhan angin pantai yang begitu sejuk. Tanpa tersadar,
aku menggeleng keras-keras. Mencoba menyadarkan diri dari bayangan yang mulai
berlari-lari di pikiranku. Wajahnya yang begitu dingin tapi begitu kaku saat
menanyakan keadaanku. Hingga ekspresi gengsi di wajahnya masih begitu nyata
saat tatapannya bersentuhan dengan tatapanku.
Tapi kini, aku tak lagi tahu segala
hal tentangmu, kau terlalu cepat menghilang dari hadapanku. Sepertinya sekarang
kau sudah benar-benar membenciku. Mungkin sikapku memang sudah terlalu
menyebalkan untukmu. Mungkin kamu tidak akan pernah menemuiku lagi. Bodoh!
Untuk apa aku berharap agar di pertemukan lagi dengannya. Aku memukul-mukul
kepalaku agar dapat berpikir dengan normal kembali. Seharusnya aku tidak
berpikir untuk jatuh cint#$&?~ hah? Apa-apaan ini? Pikiranku sepertinya
mulai terkontaminasi. Perasaan yang
absurd mulai datang. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada lelaki yang angkuh dan
sombong sepertimu, yang tak bisa menghargai perasaanku, yang selalu menganggap
remeh perjuanganku, kamu yang patahin hati aku. Dan kamu juga yang buat semua
tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahin aku kalo akhirnya aku berubah. Hak
kamu jika perubahanku membuat kebencian pada dirimu. Coba kamu pikirkan
kembali, sebenarnya siapa yang lebih pantas di benci?
Namun, tak dapat ku pungkiri,
jantungku tak dapat berhenti berdetak dengan tempo cepat setiap teringat akan
segala sikapmu. Bibirku rasanya seperti ditarik untuk mengutarakan seulas
senyum tipis. Ah sial! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tak mungkin jika aku
terus memperjuangkanmu sementara kau dengan mudahnya menjatuhkanku, setelah kau
bawa aku terbang tinggi. Kau tak
mengerti, disaat yang kau tahu aku baik-baik saja, sebenarnya aku tak pernah
baik-baik saja, dan disaat itu juga, sebenarnya aku begitu membutuhkan sosokmu.
Wajah dingin itu kembali terbayang di kepalaku. Aku menggelengkan kepala
sebelum bayangan itu akan benar-benar menjerat. Ada apa dengan perasaan ini?
Dia hanyalah orang yang menyebalkan, kenapa aku masih terus memperjuangkannya
yang sudah jelas-jelas tahu, semua hanya akan berujung pada pengabaian. Tapi
sungguh, aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Bahkan aku tak mengharapkan
apa-apa darimu. Kenapa kau masih tak dapat menerima kehadiranku? Sekalipun itu
tanpa maksud untuk mengganggumu?
Lidahku semakin kelu, tatapanku
semakin samar, tanpa sadar waktu sudah begitu cepat membawaku larut dalam
lamunan tentangnya. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanku.
Ah ternyata senja telah berganti malam, lebih baik aku pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar