Total Tayangan Halaman

Selasa, 01 Oktober 2013

Feeling


      Desir pasir dengan lantunan melodi indah yang tercipta dari gelombang pesisir pantai, angin sore bertiup kencang melawati setiap helaian rambut, membawa paksa tubuh ini untuk mengikuti setiap gerak gerik gelombang yang masih begitu angkuh untuk meredam. Menggelitiki tubuhku yang mulai rapuh hingga merasa kedinginan.  Namun, sepertinya usaha angin kali ini tidak begitu mempan untukku. Karena nyatanya aku tak memedulikan seberapa banyak angin yang menyusup masuk dalam tubuhku. Karena entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

     Aku masih duduk disini, tepatnya di tepi pantai. Masih saja aku termenung sambil menatap kehindahan ciptaan tuhan yang menyejukan setiap tatapan yang melihatnya. Mataku masih tak mau berhenti mengamati dan menatap setiap detail keindahan alam yang tuhan ciptakan. Akupun masih dapat merasakan sentuhan angin pantai yang begitu sejuk. Tanpa tersadar, aku menggeleng keras-keras. Mencoba menyadarkan diri dari bayangan yang mulai berlari-lari di pikiranku. Wajahnya yang begitu dingin tapi begitu kaku saat menanyakan keadaanku. Hingga ekspresi gengsi di wajahnya masih begitu nyata saat tatapannya bersentuhan dengan tatapanku.

      Tapi kini, aku tak lagi tahu segala hal tentangmu, kau terlalu cepat menghilang dari hadapanku. Sepertinya sekarang kau sudah benar-benar membenciku. Mungkin sikapku memang sudah terlalu menyebalkan untukmu. Mungkin kamu tidak akan pernah menemuiku lagi. Bodoh! Untuk apa aku berharap agar di pertemukan lagi dengannya. Aku memukul-mukul kepalaku agar dapat berpikir dengan normal kembali. Seharusnya aku tidak berpikir untuk jatuh cint#$&?~ hah? Apa-apaan ini? Pikiranku sepertinya mulai  terkontaminasi. Perasaan yang absurd mulai datang. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada lelaki yang angkuh dan sombong sepertimu, yang tak bisa menghargai perasaanku, yang selalu menganggap remeh perjuanganku, kamu yang patahin hati aku. Dan kamu juga yang buat semua tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahin aku kalo akhirnya aku berubah. Hak kamu jika perubahanku membuat kebencian pada dirimu. Coba kamu pikirkan kembali, sebenarnya siapa yang lebih pantas di benci?
       
      Namun, tak dapat ku pungkiri, jantungku tak dapat berhenti berdetak dengan tempo cepat setiap teringat akan segala sikapmu. Bibirku rasanya seperti ditarik untuk mengutarakan seulas senyum tipis. Ah sial! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tak mungkin jika aku terus memperjuangkanmu sementara kau dengan mudahnya menjatuhkanku, setelah kau bawa aku terbang tinggi.  Kau tak mengerti, disaat yang kau tahu aku baik-baik saja, sebenarnya aku tak pernah baik-baik saja, dan disaat itu juga, sebenarnya aku begitu membutuhkan sosokmu. Wajah dingin itu kembali terbayang di kepalaku. Aku menggelengkan kepala sebelum bayangan itu akan benar-benar menjerat. Ada apa dengan perasaan ini? Dia hanyalah orang yang menyebalkan, kenapa aku masih terus memperjuangkannya yang sudah jelas-jelas tahu, semua hanya akan berujung pada pengabaian. Tapi sungguh, aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Bahkan aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Kenapa kau masih tak dapat menerima kehadiranku? Sekalipun itu tanpa maksud untuk mengganggumu?

        Lidahku semakin kelu, tatapanku semakin samar, tanpa sadar waktu sudah begitu cepat membawaku larut dalam lamunan tentangnya. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanku. Ah ternyata senja telah berganti malam, lebih baik aku pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar