Aku masih saja memperbaiki setiap
kepingan hati yang patah sejak beberapa minggu yang lalu. Luka yang perlahan
mulai hilang meski tak seutuhnya mampu memperbaiki kepingan hati ini seperti
awal lagi. Kini aku paham tak selamanya yang datang akan tetap tinggal, dan
bukan berarti yang telah pergi tak akan pernah kembali lagi. Ini lah hidup,
semua berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan, agar aku dapat mengerti arti
sebuah kebahagiaan dan kesedihan itu sendiri.
Rasanya aku ingin segera berlari
dengan membawa pergi segala kenangan tentangmu. Andai saja bisa, andai
saja aku mampu. Aku tahu menangis itu
memalukan, tapi aku tak lagi mampu menahannya. Kenapa disaat aku mulai
menyayangimu, kau malah menyakitiku,
tidakkah kau bisa lihat betapa aku mencintaimu? Tidakkah kamu melihatnya selama
ini? Aku yakin kau mengetauhi tentang sagala rasa yang kini ku miliki, tapi
dirimu masih terlalu angkuh, egomu masih terlalu besar hingga begitu sulitnya
kau membuka hati. Butakah matamu? Tulikah telingamu? Atau matikah hatimu? Cinta
yang selama ini jelas adanya kau abaikan. Aku lelah di abaikan seperti
ini.
Aku membaringkan tubuhku, sambil
menatap nanar langit-langit kamar. Terlintas bayangan sosokmu. Teringat segala
perhatian sederhanamu yang bahkan hampir membutakan hatiku. Kenapa lagi-lagi
kau hadir? Tak bisakah kau hilang sejenak meski itu dalam lamunanku? Tidak!
Jangan katakan, jika ini Rindu. Aku benci merindukanmu, karena Rindu yang
terlantar terkadang berakhir dengan air mata. Dan aku tak ingin jika harus
menjatuhkan air mata ini lagi. “Bodoh! Coba pikir, siapa kamu dimatanya, sudah
mampu mengenalnya saja aku sangat bersyukur. Apa lagi jika bisa memilikinya.
MUSTAHIL!! Tapi kenapa tak sedikitpun
kau memberiku kesempatan, kesabaran yang kubuat selama ini terasa hampir hancur
, bahkan bisa lebih hancur lagi kalo aku tahu apa isi hati kamu sebenarnya.
Inikah cinta? Ketika aku rela
menunggumu dalam waktu yang begitu lama. Aku tetap bahagia melakukannya
meskipun aku yang tersakiti, meski pada akhirnya kau tak menjadikanku sebagai
tujuanmu. Seperti lilin yang rela membakar tubuhnya untuk menerangi, dan
seperti aku yang rela untuk tetap mencintaimu walau terus disakiti. Ya benar inilah cinta, aku tak pernah
menjadikan ini sebagai beban, aku ikhlas. Karena yang aku lakukan semata hanya
ingin melihat kau bahagia. Termasuk ketika kau memutuskan untuk tidak membuat
hubungan di antara kita lebih dari sebuah pertemanan. Karena yang aku pahami besarnya rasa cinta
bukan di dasarkan dari sebuah status. Karena yang aku tahu cinta tak pernah
membutuhkan alasan. Karena ketika pada akhirnya kau tak lagi menemukan alasan
itu, cintamu akan pudar. Perkenalan yang aku pikir akan berujung bahagia,
ternyata begitu cepat berakhir. Rasa yang kita miliki tak pernah sama, bahkan
rindu yang kita rasakan ternyata tak benar-benar bersentuhan. Aku bukanlah
tujuanmu, aku hanya persinggaahan sementara bagimu. Kamu gak ngerti seberapa
sakit ketika rasa rindu ini mulai menyayat hatiku. Aku hanya sulit memahami satu hal kenapa
perkenalan singkat kita mampu memunculkan rasa
yang mendalam. Kini aku tak tahu lagi haruskah aku tetap
memperjuangkanmu atau berhenti memperjuangkanmu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar