Total Tayangan Halaman

Jumat, 07 Juni 2013

Cinta Tak Butuh Alasan

Aku masih saja memperbaiki setiap kepingan hati yang patah sejak beberapa minggu yang lalu. Luka yang perlahan mulai hilang meski tak seutuhnya mampu memperbaiki kepingan hati ini seperti awal lagi. Kini aku paham tak selamanya yang datang akan tetap tinggal, dan bukan berarti yang telah pergi tak akan pernah kembali lagi. Ini lah hidup, semua berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan, agar aku dapat mengerti arti sebuah kebahagiaan dan kesedihan itu sendiri.
Rasanya aku ingin segera berlari dengan membawa pergi segala kenangan tentangmu. Andai saja bisa, andai saja  aku mampu. Aku tahu menangis itu memalukan, tapi aku tak lagi mampu menahannya. Kenapa disaat aku mulai menyayangimu, kau  malah menyakitiku, tidakkah kau bisa lihat betapa aku mencintaimu? Tidakkah kamu melihatnya selama ini? Aku yakin kau mengetauhi tentang sagala rasa yang kini ku miliki, tapi dirimu masih terlalu angkuh, egomu masih terlalu besar hingga begitu sulitnya kau membuka hati. Butakah matamu? Tulikah telingamu? Atau matikah hatimu? Cinta yang selama ini jelas adanya kau abaikan. Aku lelah di abaikan seperti ini. 
Aku membaringkan tubuhku, sambil menatap nanar langit-langit kamar. Terlintas bayangan sosokmu. Teringat segala perhatian sederhanamu yang bahkan hampir membutakan hatiku. Kenapa lagi-lagi kau hadir? Tak bisakah kau hilang sejenak meski itu dalam lamunanku? Tidak! Jangan katakan, jika ini Rindu. Aku benci merindukanmu, karena Rindu yang terlantar terkadang berakhir dengan air mata. Dan aku tak ingin jika harus menjatuhkan air mata ini lagi. “Bodoh! Coba pikir, siapa kamu dimatanya, sudah mampu mengenalnya saja aku sangat bersyukur. Apa lagi jika bisa memilikinya. MUSTAHIL!!  Tapi kenapa tak sedikitpun kau memberiku kesempatan, kesabaran yang kubuat selama ini terasa hampir hancur , bahkan bisa lebih hancur lagi kalo aku tahu apa isi hati kamu sebenarnya.
Inikah cinta? Ketika aku rela menunggumu dalam waktu yang begitu lama. Aku tetap bahagia melakukannya meskipun aku yang tersakiti, meski pada akhirnya kau tak menjadikanku sebagai tujuanmu. Seperti lilin yang rela membakar tubuhnya untuk menerangi, dan seperti aku yang rela untuk tetap mencintaimu walau terus disakiti.  Ya benar inilah cinta, aku tak pernah menjadikan ini sebagai beban, aku ikhlas. Karena yang aku lakukan semata hanya ingin melihat kau bahagia. Termasuk ketika kau memutuskan untuk tidak membuat hubungan di antara kita lebih dari sebuah pertemanan.  Karena yang aku pahami besarnya rasa cinta bukan di dasarkan dari sebuah status. Karena yang aku tahu cinta tak pernah membutuhkan alasan. Karena ketika pada akhirnya kau tak lagi menemukan alasan itu, cintamu akan pudar. Perkenalan yang aku pikir akan berujung bahagia, ternyata begitu cepat berakhir. Rasa yang kita miliki tak pernah sama, bahkan rindu yang kita rasakan ternyata tak benar-benar bersentuhan. Aku bukanlah tujuanmu, aku hanya persinggaahan sementara bagimu. Kamu gak ngerti seberapa sakit ketika rasa rindu ini mulai menyayat hatiku.  Aku hanya sulit memahami satu hal kenapa perkenalan singkat kita mampu memunculkan rasa  yang mendalam. Kini aku tak tahu lagi haruskah aku tetap memperjuangkanmu atau berhenti memperjuangkanmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar