Mungkin sesuatu yang sudah seharusnya
ku lepaskan tak perlu lagi ku perjuangkan. Karena itu memang keputusan yang
terbaik, walaupun terlihat sedikit tidak adil. Karena yang ku tahu adil adalah
ketika yang berjuang bukan hanya aku, tapi kita. Kamu atau aku, kita memang berhak untuk
menentukan pilihan yang terbaik, tapi tidak semua pilihan yang kau anggap baik
akan membuatmu mendapatkan apa yang kaun inginkan bukan. Ah sudahlah..
sore ini, aku melakukan kesalahan
lagi, mungkin lebih tepatnya kesalahan pada diriku sendiri. Aku telah
mengetahui apa yang seharusnya sudah ku ketahui sejak awal perkenalan kita.
Kenapa sore ini aku harus pergi ke taman. Sesuatu yang tidak baik akan terjadi,
aku merasa hal buruk itu sudah di depan mata. Jantungku mulai berdetak tidak stabil, ada
sesuatu yang menyesakkan. Aku pikir sebelumnya ini hanya mimpi buruk, mungkin
aku hanya tertidur, dan setelah bangun semua akan menjadi seperti biasa
lagi. Ternyata semua nyata.
Samar-sama ku lihat kedua sosok yang
hadir ujung pengelihatanku, aku bisa merasakan kedekatan mereka, bergandengan
tangan, saling membagi kebahagiaan di pinggir pantai taman kota. Aku mengenali
sosok pria itu, sosok yang selama ini begitu aku percayai, sosok yang selama
ini ku kira mampu menjaga dan mampu memperbaiki setiap mozaik-mozaik hatiku
yang telah patah. Tapi kulihat dia bersama sosok lain, sosok yang bahkan tak
pernah ku ketahui sebelumnya, wanita cantik, dengan rambut panjang yang indah.
Seketika seluruh tubuhku yang sebagian masih melayang di dalam mimpi, langsung
berkumpul dan membuatku berdiri dalam kesadaran penuh.
Selama ini aku terlalu fokus pada
hubungan ini, tanpa ku pernah ketahui ada sosok lain di balik layar
kehidupannya, selain aku. Dulu, dia sering kali mengatakan padaku, ingin menghabiskan
setiap detik yang dia punya dengan hidup bersamaku. Tapi nyatanya, semuat tak
sesuai yang ia katakana. Aku menarik
napas berat, aku merasakan dadaku mulai
memanas. Sudah saatnya semua ini berakhir. Tak bisa jika selamanya aku harus
berada dalam posisi sebodoh ini. Ku rasakan kakiku makin melemas, aku
berpegangan erat pada kursi taman sebelum aku memutuskan untuk menghampiri
mereka.
“Dara, apa yang kau lakukan disini?”
ujar yoga yang terkejut melihat keberadaanku di taman.
“ Seharusnya aku yang bertanya, apa
yang kau lakukan disini bersama wanita yang tak pernah ku ketahui, bahkan kau
begitu mesra kepadanya. Jelas-jelas kau sudah memiliki wanita” jaawabku dengan
emosi yang sudah memuncak.
(wanita itu hanya terkejut tanpa
kata, melihat kami)
“ Aku bisa jelaskan semua ini dara,
tunggu!!” ujarnya tegas sambil menahanku yang akan pergi.
“ sudahlah yoga, tak perlu ada yang
kau jelaskan lagi, semua sudah cukup jelas, dan kini aku tahu alasan mengapa
kau begitu asik dengan duniakmu tanpa pernah peduli bagaimana perasaanku, ku
rasa hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir.” (dengan mata yang mulai sembab
perlahan aku berjalan menjauhi mereka)
“maafkan aku dara” ujarnya pelan.
Mungkin akan lebih baik jika aku
kembali pulang kerumah untuk menenangkan pikiran. Ku buka pintu kamar perlahan.
Dengan napas yang terengah-engah dan jalan yang sempoyongan aku melangkah memasuki kamar dengan perasaan yang
begitu hancur, benar-benar tak di sangka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana
reaksi wanita itu setelah kehadiran ku yang secara tiba-tiba seperti tadi.
Entahlah, untuk apa juga aku memikirkannya, sudah jelas wanita itu yang telah
menghancurkan hubunganku dengan yoga.
Kenapa yoga melakukan semua ini kepadaku, padahal hidupku sudah terasa
membaik setelah kehadirannya di sisiku. Yang aku rasakan sekarang hanya
ketakutan yang began itu besar. Ketakutan karena aku telah kehilangan hal yang
paling berharga bagiku. Dan kini aku sudah tak mampu menahan air mataku yang
sejak tadi sudah mendesak ingin keluar karena kepergiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar