Total Tayangan Halaman

Rabu, 10 Juli 2013

Kepergiannya


Mungkin sesuatu yang sudah seharusnya ku lepaskan tak perlu lagi ku perjuangkan. Karena itu memang keputusan yang terbaik, walaupun terlihat sedikit tidak adil. Karena yang ku tahu adil adalah ketika yang berjuang bukan hanya aku, tapi kita.  Kamu atau aku, kita memang berhak untuk menentukan pilihan yang terbaik, tapi tidak semua pilihan yang kau anggap baik akan membuatmu mendapatkan apa yang kaun inginkan bukan. Ah sudahlah..
      sore ini, aku melakukan kesalahan lagi, mungkin lebih tepatnya kesalahan pada diriku sendiri. Aku telah mengetahui apa yang seharusnya sudah ku ketahui sejak awal perkenalan kita. Kenapa sore ini aku harus pergi ke taman. Sesuatu yang tidak baik akan terjadi, aku merasa hal buruk itu sudah di depan mata. Jantungku mulai berdetak tidak stabil, ada sesuatu yang menyesakkan. Aku pikir sebelumnya ini hanya mimpi buruk, mungkin aku hanya tertidur, dan setelah bangun semua akan menjadi seperti biasa lagi.  Ternyata semua nyata.
    Samar-sama ku lihat kedua sosok yang hadir ujung pengelihatanku, aku bisa merasakan kedekatan mereka, bergandengan tangan, saling membagi kebahagiaan di pinggir pantai taman kota. Aku mengenali sosok pria itu, sosok yang selama ini begitu aku percayai, sosok yang selama ini ku kira mampu menjaga dan mampu memperbaiki setiap mozaik-mozaik hatiku yang telah patah. Tapi kulihat dia bersama sosok lain, sosok yang bahkan tak pernah ku ketahui sebelumnya, wanita cantik, dengan rambut panjang yang indah. Seketika seluruh tubuhku yang sebagian masih melayang di dalam mimpi, langsung berkumpul dan membuatku berdiri dalam kesadaran penuh.
     Selama ini aku terlalu fokus pada hubungan ini, tanpa ku pernah ketahui ada sosok lain di balik layar kehidupannya, selain aku. Dulu, dia sering kali mengatakan padaku, ingin menghabiskan setiap detik yang dia punya dengan hidup bersamaku. Tapi nyatanya, semuat tak sesuai yang ia katakana.  Aku menarik napas berat,  aku merasakan dadaku mulai memanas. Sudah saatnya semua ini berakhir. Tak bisa jika selamanya aku harus berada dalam posisi sebodoh ini. Ku rasakan kakiku makin melemas, aku berpegangan erat pada kursi taman sebelum aku memutuskan untuk menghampiri mereka.
 “Dara, apa yang kau lakukan disini?” ujar yoga yang terkejut melihat keberadaanku di taman.
“ Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini bersama wanita yang tak pernah ku ketahui, bahkan kau begitu mesra kepadanya. Jelas-jelas kau sudah memiliki wanita” jaawabku dengan emosi yang sudah memuncak.
(wanita itu hanya terkejut tanpa kata, melihat kami)
“ Aku bisa jelaskan semua ini dara, tunggu!!” ujarnya tegas sambil menahanku yang akan pergi.
“ sudahlah yoga, tak perlu ada yang kau jelaskan lagi, semua sudah cukup jelas, dan kini aku tahu alasan mengapa kau begitu asik dengan duniakmu tanpa pernah peduli bagaimana perasaanku, ku rasa hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir.” (dengan mata yang mulai sembab perlahan aku berjalan menjauhi mereka)
“maafkan aku dara” ujarnya pelan.
         Mungkin akan lebih baik jika aku kembali pulang kerumah untuk menenangkan pikiran. Ku buka pintu kamar perlahan. Dengan napas yang terengah-engah dan jalan yang sempoyongan aku  melangkah memasuki kamar dengan perasaan yang begitu hancur, benar-benar tak di sangka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita itu setelah kehadiran ku yang secara tiba-tiba seperti tadi. Entahlah, untuk apa juga aku memikirkannya, sudah jelas wanita itu yang telah menghancurkan hubunganku dengan yoga.  Kenapa yoga melakukan semua ini kepadaku, padahal hidupku sudah terasa membaik setelah kehadirannya di sisiku. Yang aku rasakan sekarang hanya ketakutan yang began itu besar. Ketakutan karena aku telah kehilangan hal yang paling berharga bagiku. Dan kini aku sudah tak mampu menahan air mataku yang sejak tadi sudah mendesak ingin keluar karena kepergiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar