Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Desember 2013

Kehilangan Sosokmu


      Suara gaduh kelas semakin membuncah. Pagi ini semua terasa begitu berbeda. Aku merasa hari ini berjalan lebih keras dari biasanya. Kelelahan, ketakutan seperti memelukku dengan sangat erat. Napasku semakin terengah-engah, aku terjerat. Entah, mengapa tak ada lagi semangat yang bersorak seperti awal. Ingatan itu kembali hadir dalam lamunanku. Ternyata keadaan mampu menyeretku masuk ke dalam bayang-bayang tentangmu.  Sepertinya rasa sakit ku semakin bertambah, 3 hari berlalu sejak pertemuan kita, aku masih mengingat tatapan itu, tatapan yang begitu ku kenali, tatapan yang selalu aku rindukan, tatapan yang selalu membawaku dalam keteduhan. Tapi, tubuhku seketika menjadi begitu kaku, ada yang aneh. Aku merasa semakin terhempas. Tatapanmu kosong, bahkan malam itu aku tidak mampu menemukan sosok yang biasa ku kenali, sosok yang selalu ku cari-cari.
    Tuan, sungguh, aku begitu merindukan kamu yang dulu. Saat kau mencoba mendekatkan kembali tubuhmu, saat mata kita saling bertemu aku menjadi semakin merasa kehilanganmu. Ada rasa bersalah yang menghantuiku, hingga aku begitu takut menatapmu. Mungkin pada awalnya memang semua ini adalah kesalahanku, yang melepasmu pergi sebelum mengetahui perasaan kita masing-masing. Aku semakin merasa sepi, hari-hari yang biasa aku lewati bersama kamu, kini berubah menjadi hari tanpa warna. Jujur Tuan, aku belum siap jika suatu waktu, entah kapan saatnya jika aku mendengar kabar dan berita tentangmu, bahwa kau sudah berbahagia dengan wanita lain, mungkin itu akan menjadi hal yang akan benar-benar menyayat hatiku. Tuan, sungguh aku tidak ingin kita yang sekarang, kita yang selalu terjaga dalam jarak, bertahan dalam diam, saling membela ego masing-masing, hingga begitu sulit untuk bertukar kabar.  Tuan, semoga kau sadar bahwa aku disini berjuang mempertahankan hati untukmu, hingga wakktu yang tepat datang pada kita, entah akhir takdir Tuhan akan berbicara seperti apa. Karena yang ku tahu, aku  akan tetap menjaga hati ini untukmu. Dan pahamilah tuan, tidak mudah bertahan sendiri di saat hati sedang begitu rapuh. Percayalah, cepat atau lambat Tuhan pasti akan membiarkan waktu yang menjawabnya. Dan, biarkan kini langkahku terseret jauh, semakin jauh, dan bahkan sangat jauh, hingga punggungmu menghilanang dari pandangan, hingga wajahmu benar-benar terhapus dari ingatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar