Suara gaduh kelas semakin membuncah.
Pagi ini semua terasa begitu berbeda. Aku merasa hari ini berjalan lebih keras
dari biasanya. Kelelahan, ketakutan seperti memelukku dengan sangat erat.
Napasku semakin terengah-engah, aku terjerat. Entah, mengapa tak ada lagi
semangat yang bersorak seperti awal. Ingatan itu kembali hadir dalam lamunanku.
Ternyata keadaan mampu menyeretku masuk ke dalam bayang-bayang tentangmu. Sepertinya rasa sakit ku semakin bertambah, 3
hari berlalu sejak pertemuan kita, aku masih mengingat tatapan itu, tatapan
yang begitu ku kenali, tatapan yang selalu aku rindukan, tatapan yang selalu
membawaku dalam keteduhan. Tapi, tubuhku seketika menjadi begitu kaku, ada yang
aneh. Aku merasa semakin terhempas. Tatapanmu kosong, bahkan malam itu aku
tidak mampu menemukan sosok yang biasa ku kenali, sosok yang selalu ku
cari-cari.
Tuan, sungguh, aku begitu merindukan kamu yang dulu. Saat kau
mencoba mendekatkan kembali tubuhmu, saat mata kita saling bertemu aku menjadi
semakin merasa kehilanganmu. Ada rasa bersalah yang menghantuiku, hingga aku
begitu takut menatapmu. Mungkin pada awalnya memang semua ini adalah
kesalahanku, yang melepasmu pergi sebelum mengetahui perasaan kita
masing-masing. Aku semakin merasa sepi, hari-hari yang biasa aku lewati bersama
kamu, kini berubah menjadi hari tanpa warna. Jujur Tuan, aku belum siap jika
suatu waktu, entah kapan saatnya jika aku mendengar kabar dan berita tentangmu,
bahwa kau sudah berbahagia dengan wanita lain, mungkin itu akan menjadi hal
yang akan benar-benar menyayat hatiku. Tuan, sungguh aku tidak ingin kita yang
sekarang, kita yang selalu terjaga dalam jarak, bertahan dalam diam, saling
membela ego masing-masing, hingga begitu sulit untuk bertukar kabar. Tuan, semoga kau sadar bahwa aku disini berjuang
mempertahankan hati untukmu, hingga wakktu yang tepat datang pada kita, entah
akhir takdir Tuhan akan berbicara seperti apa. Karena yang ku tahu, aku akan tetap menjaga hati ini untukmu. Dan
pahamilah tuan, tidak mudah bertahan sendiri di saat hati sedang begitu rapuh.
Percayalah, cepat atau lambat Tuhan pasti akan membiarkan waktu yang
menjawabnya. Dan, biarkan kini langkahku terseret jauh, semakin jauh, dan
bahkan sangat jauh, hingga punggungmu menghilanang dari pandangan, hingga
wajahmu benar-benar terhapus dari ingatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar