Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Desember 2013

Ternyata Aku Salah


Akhirnya aku sampai pada tahap ini, hal yang tak pernah aku tunggu-tunggu. Posisi yang sebenarnya tak pernah aku bayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan terjatuh terlalu dalam. Ku kira langkahku sudah benar. Ku pikir anggapanku adalah segalanya. Meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Entah kenapa, hari-hariku tiba-tiba kosong dan berbeda. Mungkin kau pikir aku berlebihan, tentu saja kau berpikir seperti itu, karena kau tak berada di posisiku, kamu tak merasakan sesaknya menjadi aku. Ternyta usahaku untuk memperjuangkanmu selama ini sia-sia, dan mungkin jika dari awal aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak sedekat ini, hingga setelah menerima kenyataan rasanya begitu sangat menyesakkan. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Aku juga manusia biasa yang memiliki perasaan, ku harap kamu bisa memahami dan menyadari.
      Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kau tak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa ku mengerti. Aku masih belum mengerti, mengapa semua berakhir dengan sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu . aku hanya temanmu, temanmu, temanmu!!
Jika kau ingin tahu, selama ini aku kesesakan dengan semua perlakuanmu. Aku terkatung-katung sendirian. Membiarkan meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang sudah kulakukan, tapi kenapa matamu masih belum juga terbuka dan tertutup ragu?
Sejak dulu, harusnya aku tak perlu perhatikan kamu sedetil itu.  Mungkin jika dari awal aku tak pernah mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi.
      Iya. Aku bodoh, puas?
Mengetahui kenyantaan yang mencekam seperti ini, aku jadi malas tersenyum dan berbicara banyak tentang perasaanku kepada orang lain. Berbahagialah kamu dengan wanita pilihanmu,disini aku juga berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Kau tahu, karena yang kupahami, sejatinya cinta adalah ikhalas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun bukan bersamaku.
Tenanglah, aku akan berlajar melupakanmu. Biar aku yang mengobati luka ini sendiri dengan sekuat tenaga. Aku ingin kamu bahagia bersamanya, aku tak bisa berbuat banyak selain mendoakanmu dalam percakapan panjangku dengan tuhan. Maaf karena aku tak sempat membuatmu tersenyum.
Mungkin setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi, bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar